Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut kinerja ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) justru semakin kuat sejak diterapkannya Agreement Reciprocal Tariff (ART). Menurutnya, penerapan ART membuat surplus perdagangan Indonesia dengan AS melonjak.
“Sejak resiprokal tarif itu ekspor kita meningkat, bahkan surplus kita nomor satu itu justru sejak diberlakukan resiprokal tarif. Tadinya yang nomor satu itu selalu India. Tetapi begitu resiprokal tarif diterapkan, justru Amerika jadi nomor satu,” ujar Budi pada acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Jakarta, Senin (25/6).
Budi menjelaskan Indonesia selama ini memiliki kebergantungan ekspor yang cukup besar terhadap pasar AS. Karena itu, pemerintah memilih menjaga hubungan dagang dengan Negeri Paman Sam melalui ART.
“Nah kalau misalnya kemudian tidak ada ART, mau dikemanakan yang USD 30 miliar itu? Ekspornya mau dikemanakan? Apakah mau dipindahkan negara lain? Tidak mudah, itu 11 persen. Surplus ekspor kita ke dunia itu 11 persen ke Amerika,” ungkap Budi.
Budi mengatakan surplus perdagangan Indonesia dengan AS pada tahun lalu mencapai USD 18,11 miliar, dengan total ekspor mencapai sekitar USD 30,6 miliar.
Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan Budi, periode Januari-Maret 2026, AS jadi negara penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia dengan nilai mencapai USD 4,43 miliar. Posisi tersebut menggeser India yang mencatat surplus USD 3,29 miliar.
Selain AS dan India, negara lain penyumbang surplus terbesar RI yakni Filipina sebesar USD 2,09 miliar, Belanda USD 1,24 miliar, dan Vietnam USD 1,18 miliar.
Dalam data itu, total ekspor Indonesia ke 20 negara mitra utama pada Januari-Maret 2026 mencapai USD 66,85 miliar, sementara impor sebesar USD 61,30 miliar. Sehingga menghasilkan surplus perdagangan USD 5,55 miliar.
Budi menegaskan ART justru menjadi momentum yang selama ini ditunggu Indonesia untuk membuka jalur negosiasi perdagangan yang lebih luas dengan AS.
“Saya ingin menyampaikan, di masyarakat kan kemarin ramai, kenapa kita tanda tangan ART, Agreement Reciprocal Tariff. Kita itu mau berunding dengan Amerika itu sudah 30 tahun yang lalu,” ungkap Budi.
Budi menuturkan sebetulnya Indonesia telah memiliki dasar perundingan dagang dengan AS sejak penandatanganan Trade Investment Framework Agreement (TIFA) pada 1 Juli 1996. Namun, berbagai negosiasi yang dilakukan selama ini selalu kandas.
“Jadi TIFA ini sebenarnya dasar ketika kita akan membuat perundingan dengan Amerika. Tetapi kita tidak pernah jadi, batal,” tutur Budi.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·