Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik melalui kenaikan tunjangan bagi guru non-Aparatur Sipil Negara (ASN) dan guru ASN. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk realisasi janji Presiden Prabowo Subianto dalam memangkas jalur birokrasi pencairan dana, seperti dilansir dari Detikcom pada Kamis (11/6/2026).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan kepastian perbaikan pendapatan tersebut saat memberikan keterangan di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta. Langkah ini diambil agar para guru bisa merasakan langsung dampak dari kebijakan anggaran pemerintah tanpa hambatan administratif yang panjang.
"Kemudian untuk kesejahteraan guru, kami ingin tegaskan sekali lagi bahwa sesuai komitmen Bapak Presiden, tunjangan guru sekali lagi sudah dinaikkan dari yang guru non-ASN tunjangannya dinaikkan dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2 juta, dan kemudian guru ASN tunjangannya sebesar gaji pokok," kata Mu'ti kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Sistem penyaluran uang tunjangan kini mengalami perubahan dengan metode pengiriman langsung ke rekening masing-masing penerima setiap bulan. Skema terobosan ini membedakan mekanisme pembiayaan guru dari periode-periode pemerintahan sebelumnya.
"Yang berbeda juga sebagai terobosan adalah tunjangan dan gaji itu ditransfer langsung ke rekening guru setiap bulan. Nah, ini yang membedakan dengan kebijakan sebelumnya dan ini menunjukkan komitmen Bapak Presiden untuk bagaimana proses birokrasi yang tidak birokratis dan agar guru dapat mendapatkan manfaat langsung dari transfer tunjangan yang ke rekening guru setiap bulan," ujarnya.
Selain perbaikan pendapatan bulanan, kuota bantuan pendidikan juga disediakan kembali oleh pemerintah bagi ratusan ribu tenaga pendidik. Beasiswa kuliah seharga Rp 3 juta per semester tersebut menargetkan guru-guru yang belum menyelesaikan jenjang diploma empat atau strata satu.
"Nah, tahun ini kami mengalokasikan beasiswa untuk guru yang belum D4 atau S1 sebanyak 150.000 guru dengan nominal beasiswa sama dengan yang tahun 2025, Rp 3 juta per semester. Dan sekarang masih proses pendaftaran karena kami masih terus menunggu para guru untuk dapat mengikuti program ini," ujarnya.
Pemerintah mencatat ada belasan ribu guru penerima beasiswa periode sebelumnya dengan sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang dijadwalkan lulus pada tahun ini. Pihak kementerian mengupayakan kehadiran kepala negara untuk memimpin prosesi kelulusan massal para pendidik tersebut.
"Kemudian untuk guru juga kami sampaikan bahwa tahun 2025 kami mengalokasikan beasiswa untuk 12.500 guru yang belum D4 atau S1 dengan beasiswa 3 juta per semester. Program ini sudah berjalan dengan sistem RPL (rekognisi pembelajaran lampau), sudah masuk semester kedua dan Insyaallah sebagian akan bisa diwisuda pada tahun ini," kata Mu'ti.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kini tengah merampungkan seluruh proses akademik para peserta program beasiswa tersebut sebelum upacara kelulusan digelar.
"Kami rencanakan kalau nanti sudah selesai semua yang 12.500, kami harapkan nanti, kami mohon tadi kepada Bapak Presiden untuk dapat mewisuda 12.500 guru yang mendapatkan beasiswa S1 dengan sistem RPL," lanjutnya.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·