Mendikdasmen tekankan kecerdasan ekologis dan budaya sekolah aman

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Denpasar (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menekankan pentingnya membangun kecerdasan ekologis dan budaya sekolah aman sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda Indonesia.

Saat menghadiri kegiatan Denpasar Education Festival 2026 di Denpasar, Bali, Kamis, ia mengatakan kecerdasan ekologis harus diwujudkan melalui kebiasaan memilih produk yang ramah lingkungan serta perilaku yang mendukung pelestarian alam.

“Kita harus memiliki kecerdasan di dalam memilih produk-produk yang kita pakai dan menghindari pemakaian produk yang merusak lingkungan,” katanya.

Menurut dia, gerakan budaya hidup aman, sehat, resik dan indah yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto memiliki dimensi luas karena tidak hanya menyangkut kebijakan penyelamatan lingkungan, tetapi juga pembangunan budaya masyarakat.

Ia menilai faktor budaya menjadi unsur penting dalam pendidikan karena pendidikan pada hakikatnya proses membangun karakter dan budaya bangsa.

Dalam konteks itu, ia menegaskan budaya sekolah aman harus diwujudkan dengan menghapus segala bentuk perundungan di lingkungan pendidikan.

Baca juga: Upayakan kepastian hukum, Mendikdasmen: Guru non-ASN bisa jadi ASN

Ia menyebut perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga verbal maupun sikap intoleran terhadap orang lain.

“Membangun budaya yang aman adalah budaya di mana kita menghormati sesama,” ujarnya.

Menurut dia, sikap menghormati tidak cukup hanya dimaknai sebagai toleransi, melainkan harus melampaui toleransi dengan kepedulian terhadap kondisi orang lain.

Ia mengatakan toleransi yang dimaknai secara sempit dapat memunculkan sikap apatis dan ketidakpedulian terhadap kesulitan yang dialami sesama.

Abdul Mu’ti juga menyinggung kecenderungan manusia yang bersifat individualistis atau selfish serta kecenderungan mementingkan kelompok tertentu atau groupish yang berpotensi mengabaikan kepentingan yang lebih luas.

Karena itu, menurut dia, pembangunan budaya aman di sekolah maupun masyarakat memerlukan sikap terbuka, lapang dada dan kemampuan menerima perbedaan.

Ia menilai Bali menjadi contoh daerah yang mampu menjaga toleransi dan rasa aman bagi masyarakat maupun pendatang.

Selain sekolah aman, ia menekankan pentingnya membangun sekolah sehat yang sejalan dengan program Kementerian Kesehatan.

Menurut dia, konsep sehat tidak hanya berkaitan dengan kesehatan jasmani, tetapi juga kesehatan rohani dan sosial.

Ia mengutip definisi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang menyebut sehat sebagai kondisi sehat secara fisik dan mental.

Abdul Mu’ti mengatakan masalah kesehatan mental kini menjadi tantangan besar masyarakat modern sehingga isu kesejahteraan atau well being menjadi perhatian dunia.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak bersama-sama mewujudkan lingkungan pendidikan yang sehat, aman dan mendukung kesehatan mental peserta didik.

Baca juga: Mendikdasmen puji Sekolah di Bali olah sampah jadi produk bermanfaat

Baca juga: Pemerintah targetkan revitalisasi 71.744 sekolah pada tahun ini

Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.