Mengapa prodi harus menyesuaikan zaman?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - "Jika kita mengajar siswa hari ini seperti kita mengajar mereka kemarin, maka kita sedang merampas masa depan mereka."

Kutipan masyhur dari filsuf, sekaligus tokoh pendidikan asal Amerika Serikat John Dewey, tersebut tampaknya terus menjadi alarm yang berdering nyaring melintasi zaman. Meski diucapkan puluhan tahun silam, pesan Dewey menemukan urgensinya di era modern, menjadi teguran reflektif bagi para pemangku kepentingan pendidikan tinggi di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Saat ini, umat manusia berada pada era disrupsi, di mana perubahan lanskap ekonomi dan teknologi berlangsung semakin cepat dan tak terprediksi. Dunia kerja bergerak ke arah yang jauh lebih dinamis, ditandai dengan munculnya berbagai profesi baru yang sebelumnya tak pernah terbayangkan, seperti analis mahadata (big data analyst), spesialis kecerdasan buatan (AI specialist), hingga manajer transformasi digital.

Di saat yang sama, kita juga menyaksikan hilangnya sejumlah pekerjaan lama akibat otomatisasi, serta meningkatnya kebutuhan mutlak akan keterampilan lintas disiplin.

Di tengah gelombang perubahan radikal itu, perguruan tinggi sebagai kawah candradimuka peradaban dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar yang tak bisa lagi dihindari: Apakah program studi (prodi) yang ada saat ini masih relevan dengan tuntutan zaman?

Pertanyaan tersebut menjadi inti dari perdebatan akademik maupun publik yang mengemuka belakangan ini. Wacana penyesuaian prodi memicu respons yang amat beragam di kalangan sivitas akademika maupun masyarakat luas.

Sebagian pihak menilai langkah adaptasi tersebut sangat krusial agar pendidikan tinggi tidak tertinggal dari kereta kemajuan dan kebutuhan industri yang berlari cepat. Namun, di sisi lain, tidak sedikit pula pakar yang merasa khawatir bahwa kebijakan penyesuaian ini akan mengorbankan marwah dan keberagaman ilmu pengetahuan murni hanya demi melayani hasrat pasar semata.

Keniscayaan adaptasi

Secara global, langkah evaluasi terhadap program studi, sejatinya bukanlah sebuah fenomena baru yang mengejutkan. Perguruan tinggi ternama di negara-negara maju telah lama menjadikan peninjauan berkala terhadap jurusan-jurusan mereka sebagai sebuah tradisi akademik, terutama ketika terjadi pergeseran tektonik dalam kebutuhan tenaga kerja.

Di Amerika Serikat, misalnya, sejumlah universitas terkemuka tidak ragu melakukan restrukturisasi besar-besaran. Mereka berani mengambil langkah tidak populer dengan menutup atau menggabungkan program studi yang minim peminat dan dianggap usang secara praksis.

Kebijakan ini lahir dari realitas tak terbantahkan bahwa minat generasi muda terus berubah, sementara industri menuntut kompetensi baru yang jauh lebih spesifik dan aplikatif.

Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa pendekatan yang diambil oleh kampus-kampus global ini tidak selalu bersifat eliminatif atau sekadar "tutup warung". Banyak kampus memilih jalan tengah yang brilian, yakni mentransformasi program yang sudah ada.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.