Mengenal Qin Shi Huang Kaisar Pertama China yang Terobsesi Hidup Abadi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Qin Shi Huang tercatat dalam sejarah sebagai kaisar pertama yang menyatukan daratan China di bawah naungan Dinasti Qin pada tahun 221-207 SM. Sosok yang dianggap sebagai pendiri kekaisaran China ini memiliki ambisi besar, namun meninggal dunia sebelum menginjak usia 50 tahun.

Dilansir dari Detikcom, kaisar yang lahir sekitar tahun 259 SM ini awalnya memiliki nama asli Zhao Zheng. Ia merupakan putra dari Zhuangxiang, penguasa negara Qin yang terletak di wilayah barat laut China.

Zheng resmi naik takhta pada usia 13 tahun, tepatnya tahun 246 SM, saat negara Qin telah menjadi kekuatan militer yang dominan. Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi dirinya untuk menyatukan berbagai wilayah ke dalam satu sistem kekaisaran yang terpusat.

Setelah berhasil menyatukan wilayah, Zheng memproklamirkan dirinya sebagai Qin Shi Huang atau Kaisar Berdaulat Pertama. Ia mengembangkan sistem birokrasi dan organisasi militer yang sangat kuat sebagai fondasi utama dalam menjalankan roda pemerintahan kekaisarannya.

Qin Shi Huang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi terhadap keberlangsungan kekuasaannya. Ia bahkan sempat mengklaim bahwa dinasti yang ia bangun akan mampu bertahan hingga 10.000 generasi di masa depan.

Demi menjaga administrasi tetap terpusat, ia melakukan reformasi dengan membagi negara menjadi 36 distrik militer. Setiap wilayah tersebut dikelola oleh administrator sipil dan militer secara terpisah guna mencegah munculnya kekuatan tandingan.

Standardisasi dan Pembangunan Tembok Besar

Kebijakan kaisar mencakup standardisasi di berbagai aspek kehidupan rakyat, mulai dari alat timbang, ukuran barang, hingga hukum dan bahasa tulis. Langkah ini diambil untuk menciptakan keseragaman di seluruh wilayah kekaisaran yang luas.

Pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti jalan raya dan kanal juga dimulai pada era kepemimpinannya. Untuk melindungi wilayah dari serangan suku barbar di utara, ia menghubungkan benteng-benteng pertahanan hingga membentuk Tembok Besar China.

Pencarian Ramuan Keabadian

Di balik ketegasan memimpin, Qin Shi Huang memiliki ketertarikan mendalam pada dunia sihir dan alkimia. Ia sangat terobsesi untuk menemukan ramuan yang bisa memberinya kehidupan abadi agar bisa memerintah selamanya.

Obsesi ini membuatnya sering melakukan perjalanan ke berbagai penjuru wilayah untuk mencari ahli sihir. Setelah kegagalan ekspedisi ke pulau-pulau di Laut Timur tahun 219 SM, ia memanggil banyak penyihir ke istana demi memenuhi keinginannya tersebut.

Kematian dan Warisan Terakota

Tahun-tahun terakhir kehidupan sang kaisar diwarnai oleh ketidakpercayaan masyarakat dan beberapa percobaan pembunuhan. Pola hidupnya yang terisolasi dari penderitaan rakyat membuatnya dianggap sebagai sosok dewa yang menjauh dari kenyataan sosial.

Qin Shi Huang akhirnya mengembuskan napas terakhir pada tahun 210 SM saat sedang melakukan kunjungan inspeksi di usianya yang ke-49. Ia dimakamkan di sebuah kompleks makam raksasa yang dirancang menyerupai simbol kosmos.

Kompleks pemakaman tersebut dibangun selama 38 tahun dan menjadi lokasi ditemukannya ribuan Patung Prajurit Terakota. Patung-patung ini dibuat sebagai simbol pelindung sang kaisar di alam baka. Situs yang ditemukan pada 1974 ini resmi menjadi Warisan Dunia UNESCO sejak 1987.