Mengingat Lagi Peristiwa Mei 1998 Lewat Laut Bercerita
Peristiwa Mei 1998 menjadi salah satu catatan paling krusial dalam sejarah modern Indonesia. Setelah 32 tahun memimpin, Presiden Suharto akhirnya lengser seusai demonstrasi besar-besaran dilakukan aktivis yang mayoritas dari golongan mahasiswa.
Orde Baru pun runtuh dan menandakan fajar baru bagi era Reformasi yang lebih terbuka dan demokratis. Namun, di tengah euforia itu luka menganga masih terasa bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Banyak para aktivis tidak kembali ke pelukan keluarga tercinta entah karena meninggal dunia di jalan atau sengaja dihilangkan.
Pada era reformasi suara-suara protes ke pemerintah tetap menggema khususnya dari keluarga dan kerabat aktivis. Mereka bersama-sama mempertanyakan ke mana rekan-rekannya yang tidak jelas nasibnya pada peristiwa Mei 1998. Sayangnya pemerintah Indonesia terus bungkam dengan adanya protes yang konsisten terus disuarakan bertahun-tahun itu.
Kegelisahan demi kegelisahan dirasakan banyak orang mengenai kepiluan peristiwa Mei 1998 termasuk dari kalangan sastrawan. Salah satu yang bersuara melalui karya ialah Leila S. Chudori. Melalui buku novelnya Laut Bercerita ia dinilai berhasil membawa para generasi penerus untuk terus ingat dengan kejadian tersebut.
Peristiwa Mei 1998 di Novel Laut Bercerita
Laut Bercerita adalah novel fiksi sejarah karya Leila S. Chudori yang diterbitkan pada 2017. Novel ini mengangkat salah satu tragedi kemanusiaan paling kelam dalam sejarah modern Indonesia, yaitu penculikan dan penghilangan paksa para aktivis mahasiswa pro-demokrasi menjelang runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998.
Dalam acara “Re-Play 1998: Melalui Representasi dalam Budaya Populer” di Gedung Komnas HAM, Jakarta, pada Kamis (21/5/2026) lalu, Leila mengaku ide menggarap kisah untuk novel ini bermula dari pengalamannya menjadi wartawan Tempo di mana ia menyaksikan peristiwa itu berdampak bagi kehidupan banyak orang.
“Nah, itu salah satu juga hal yang menurut saya, ‘I need to write about this’. Karena ini bakalan 10-20 tahun nanti dan benar. Saya merasa ada cerita yang harus share kepada pembaca. Jadi kita mengikuti tokoh Biru Laut yang sebetulnya hidupnya sudah tidak ada, dia sudah mati sebetulnya tapi diberi cerita kepada pembaca bagaimana sampai bernasib seperti itu,” kata Leila.
Novel Laut Bercerita memang sekadar terinspirasi dari peristiwa Mei 1998. Meskipun genrenya fiksi sejarah, tentu Leila tidak bisa asal meramu cerita. Ia mesti menjalani proses kreatif untuk membuat tiap-tiap karakternya yang diramu lewat banyak wawancara dengan sejumlah narasumber.
“Yang namanya penulis kita membangun jagat baru, tokoh baru. Bahwa Laut senang masak bukan karena saya senang masak. We created a new character ketikamenulis. Saya bukan menulis memoar ya, saya menulis novel. Mereka (narasumber) sangat paham dan sangat kooperatif,” ucapnya.
Film dan Musik untuk Laut Bercerita
Novel Laut Bercerita mendulang kesuksesan dalam segi penjualan. Dilansir dari Detik.com, pada Juli 2025 dilaporkan novel satu ini berhasil menembus cetakan ke-100 dan telah terjual lebih dari 500 ribu eksemplar.
Namun, jauh sebelum menyentuh cetakan ke-100, Laut Bercerita sudah mencuri atensi publik khususnya dari orang-orang dari industri perfilman. Kisah tentang Laut pernah digarap menjadi film pendek yang disutradarai Pritagita Arianegara pada 2017. Sejumlah aktor dan aktris ternama turut terlibat di dalamnya di antaranya Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo.
Versi film panjangnya sendiri sudah digarap oleh sutradara asal Yogyakarta, Yosep Anggi Noen. Dalam mengolah kisah bertemakan aktivisi pada era Orde Baru, Anggi tampak tidak kesulitan karena sebelumnya sudah pernah menggarap tema serupa dalam film Istirahatlah Kata-Kata yang mengisahkan penyair Wiji Thukul. Di samping pengalaman berfilm, ia mengaku menyaksikan peristiwa Mei 1998 dan sedikit merasakan kegelisahan di tengah keluguan alam pikir anak remaja.
“Kenapa saya membuat film ini termasuk film Istirahat, saya katakan saya mengalaminya. Saya 98 masih SMP dan sekolah di Kecamatan Moyudan di Sleman. Ketika itu berita ini kurang lebih muncul di koran atau TV. Untuk anak kecil mungkin tidak penting mungkin tidak penting karena tidak mengalaminya langsung. Cuma satu hal yang saya dapatkan dari proses saya bertemu, anak muda ini saya yang di waktu itu sekolah 98, justru ketika mengalami saya berusaha mencari. Saya membayangkan ada jutaan anak muda mungkin sekarang yang tidak mengalami yang terjadi di 98,” kata Anggi.
Selain Anggi, vokalis The Brandals Eka Annash juga dilibatkan dalam proyek film ini. Melalui karya musiknya yang bernuansa pemberontakan, Eka berusaha menyelipkan lagu-lagu yang sesuai dengan film Laut Bercerita berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai demonstran.
“Aku alhamdulillah mengalami langsung waktu tahun 98, umur 22 tahun, mahasiswa Trisakti waktu itu. Jadi pengalaman itu berguna juga. Menurut aku kita harus berdaya dengan kekuatan musik, seni, yang bisa membangun kekuatan kualitas untuk mendapatkan ingatan dan memori. Karena ingatan itu adalah senjata kita untuk melawan rezim,” ucap Eka.
Film Laut Bercerita dijadwalkan tayang di bioskop pada 2026. Selain kembali diperankan Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo, film ini juga menampilkan aktor dan aktris kelas atas lain yaitu Eva Celia, Christine Hakim serta Arswendy Beningswara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·