Menjemput masa depan hijau dari koridor Bojonggede–Sentul

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ketika masyarakat mulai beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal, biaya sosial akibat kemacetan, pemborosan BBM, waktu tempuh yang tidak produktif, hingga polusi udara dapat ditekan secara signifikan.

Kabupaten Bogor (ANTARA) - Kabupaten Bogor bukan sekadar wilayah penyangga Jakarta. Dengan jumlah penduduk lebih dari 6 juta jiwa dan mobilitas harian yang sangat tinggi, daerah ini menjadi salah satu episentrum pergerakan manusia terbesar di Indonesia.

Setiap pagi, ribuan warga berangkat menuju Jakarta dan kota-kota penyangga lain untuk bekerja, sekolah, hingga menjalankan aktivitas ekonomi. Sebaliknya, sore hari arus kendaraan kembali menumpuk menuju Bogor. Pola ini menciptakan tekanan besar terhadap jalan nasional, konsumsi bahan bakar, hingga kualitas lingkungan.

Selama bertahun-tahun, solusi transportasi di Kabupaten Bogor lebih banyak bertumpu pada pelebaran jalan, penataan simpang, hingga rekayasa lalu lintas. Namun pertumbuhan kendaraan pribadi yang jauh lebih cepat membuat persoalan kemacetan terus berulang.

Bupati Bogor Rudy Susmanto melihat bahwa persoalan itu tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah ruang jalan. Kabupaten Bogor membutuhkan sistem transportasi massal yang modern, terintegrasi, dan mampu mengurangi kebergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

Gagasan itu mulai diwujudkan melalui peluncuran KaBogor Bus Listrik, layanan transportasi massal berbasis listrik yang saat ini tengah diuji coba di koridor Bojonggede–Sentul.

Sebanyak empat armada bus listrik mulai beroperasi dan digratiskan bagi masyarakat selama tiga bulan. Peluncurannya bertepatan dengan kegiatan Car Free Day di Jalan Tegar Beriman, Cibinong, sebagai simbol dimulainya arah baru transportasi ramah lingkungan di Kabupaten Bogor.

Koridor Bojonggede dipilih bukan tanpa alasan. Stasiun Bojonggede setiap hari melayani sekitar 50 ribu penumpang KRL yang menjadi salah satu titik mobilitas terbesar di wilayah Bogor.

Selama ini, ribuan penumpang yang turun dari kereta masih bergantung pada kendaraan pribadi, ojek, atau angkutan tidak terintegrasi untuk melanjutkan perjalanan ke Cibinong, Sentul, maupun kawasan pusat ekonomi lainnya.

KaBogor Bus diharapkan menjadi jawaban atas persoalan itu. Dengan rute yang menghubungkan Bojonggede hingga Sentul City, termasuk titik pemberhentian di kawasan AEON dan halte terintegrasi dengan layanan TransJakarta di Sentul, masyarakat memiliki alternatif perjalanan yang lebih efisien.

Tujuannya sederhana tetapi strategis: warga yang turun dari stasiun tidak perlu lagi membawa kendaraan pribadi untuk melanjutkan perjalanan. Ketika pilihan transportasi publik tersedia dengan nyaman dan terjadwal, beban jalan perlahan dapat berkurang.

Lebih dari itu, jika sistem ini berjalan permanen melalui skema Buy The Service (BTS), Kabupaten Bogor berpotensi menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang menghadirkan angkutan umum massal berbasis bus listrik dengan skema tersebut.

Bukan sekadar proyek transportasi, tetapi sebuah lompatan kebijakan yang dapat menjadi model nasional bagi daerah penyangga metropolitan lain.


Buy The Service

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.