PROKALTENG.CO-Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur telah resmi berakhir. Insiden maut yang melibatkan tabrakan antara KRL Commuter Line dan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek ini menelan 14 korban jiwa.
Pihak berwenang memastikan seluruh proses evakuasi telah rampung dalam waktu kurang dari 12 jam sejak kecelakaan terjadi pada Selasa (28/4) malam.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengonfirmasi data terkini mengenai jumlah korban dalam tragedi ini. Mayoritas korban luka saat ini masih menjalani perawatan intensif di delapan rumah sakit rujukan.
“Jadi jumlah korban itu adalah 14 orang jiwa meninggal dunia. Ada 84 yang luka-luka, cuma 84 yang luka-luka ini itu sebagian besar masih dirawat di 8 rumah sakit. Tentunya kami, Pak Menteri, kemudian kami di KAI itu memberikan yang terbaik agar korban yang luka-luka ini segera pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa kembali,” ujar Bobby di stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4).
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menambahkan, tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri telah bekerja maksimal, meski menghadapi tantangan akibat posisi gerbong yang terjepit.
“Alhamdulillah saya dari Basarnas dibantu TNI, Polri, dan seluruh potensi, kita telah menyelesaikan operasi SAR dengan penanganan khusus kurang dari 12 jam. Terhitung tadi malam kita sama-sama berduka pada pukul 08:57 (20:57, Red) terjadi musibah adanya kecelakaan yang terjadi antara dua kereta yaitu kereta Commuter dengan Argo Anggrek,” jelasnya.
Syafii juga memastikan bahwa hingga saat ini sudah tidak ada lagi korban di lokasi kejadian. Namun, prosedur pembersihan tetap dilakukan dengan ketelitian tinggi.

“Saya sampaikan bahwa saya pastikan sudah tidak ada korban yang kita temukan. Namun dalam proses pembersihan bangkai kereta, andai saja diketemukan sekecil apa pun body part dari tubuh, tentunya kita akan melakukan tindakan sesuai dengan prosedur dan itu memang harus kita lakukan,” tambahnya.
Sementara itu, operasional di Stasiun Bekasi Timur saat ini masih dibatasi. PT KAI tengah berupaya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi rel, persinyalan, hingga jaringan listrik aliran atas (LAA) sebelum stasiun kembali dibuka normal untuk melayani masyarakat. (jpg)
PROKALTENG.CO-Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur telah resmi berakhir. Insiden maut yang melibatkan tabrakan antara KRL Commuter Line dan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek ini menelan 14 korban jiwa.
Pihak berwenang memastikan seluruh proses evakuasi telah rampung dalam waktu kurang dari 12 jam sejak kecelakaan terjadi pada Selasa (28/4) malam.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengonfirmasi data terkini mengenai jumlah korban dalam tragedi ini. Mayoritas korban luka saat ini masih menjalani perawatan intensif di delapan rumah sakit rujukan.

“Jadi jumlah korban itu adalah 14 orang jiwa meninggal dunia. Ada 84 yang luka-luka, cuma 84 yang luka-luka ini itu sebagian besar masih dirawat di 8 rumah sakit. Tentunya kami, Pak Menteri, kemudian kami di KAI itu memberikan yang terbaik agar korban yang luka-luka ini segera pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa kembali,” ujar Bobby di stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4).
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menambahkan, tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri telah bekerja maksimal, meski menghadapi tantangan akibat posisi gerbong yang terjepit.
“Alhamdulillah saya dari Basarnas dibantu TNI, Polri, dan seluruh potensi, kita telah menyelesaikan operasi SAR dengan penanganan khusus kurang dari 12 jam. Terhitung tadi malam kita sama-sama berduka pada pukul 08:57 (20:57, Red) terjadi musibah adanya kecelakaan yang terjadi antara dua kereta yaitu kereta Commuter dengan Argo Anggrek,” jelasnya.
Syafii juga memastikan bahwa hingga saat ini sudah tidak ada lagi korban di lokasi kejadian. Namun, prosedur pembersihan tetap dilakukan dengan ketelitian tinggi.
“Saya sampaikan bahwa saya pastikan sudah tidak ada korban yang kita temukan. Namun dalam proses pembersihan bangkai kereta, andai saja diketemukan sekecil apa pun body part dari tubuh, tentunya kita akan melakukan tindakan sesuai dengan prosedur dan itu memang harus kita lakukan,” tambahnya.
Sementara itu, operasional di Stasiun Bekasi Timur saat ini masih dibatasi. PT KAI tengah berupaya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi rel, persinyalan, hingga jaringan listrik aliran atas (LAA) sebelum stasiun kembali dibuka normal untuk melayani masyarakat. (jpg)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·