Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan sejumlah hasil penting dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia, termasuk penjajakan kerja sama di bidang antariksa dengan kemungkinan pengiriman warga Indonesia untuk mengikuti program kosmonot.
Hal tersebut disampaikan Sugiono dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Rabu (22/4).
"Jadi kembali, saya juga ingin menyampaikan lewat kesempatan ini bahwa sebenarnya yang dilakukan oleh pemerintah, dilakukan oleh Presiden pada kepemimpinan beliau adalah bagaimana menyelesaikan masalah-masalah mendasar dari kehidupan masyarakat," ujar Sugiono.
Ia menegaskan bahwa langkah-langkah diplomasi yang dilakukan Presiden tidak lepas dari upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
"Termasuk upaya-upaya beliau di panggung diplomasi internasional untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya mendasar dalam rangka menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat," lanjutnya.
Dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, kata Sugiono, turut dibahas isu ketahanan pangan global, termasuk keterbatasan pupuk dunia.
"Nah, kembali lagi tadi ada suatu keterbatasan pupuk dunia, oleh karena itu kita juga Bapak Presiden juga membahas dengan Presiden Putin pada pertemuan beliau," ungkap dia.
Selain itu, Sugiono mengatakan, kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk sektor antariksa, juga menjadi fokus pembahasan kedua negara.
"Hal-hal lain yang dibahas juga mengenai kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian antariksa," kata Sugiono.
Ia mengungkapkan, Presiden Prabowo turut menyampaikan peluang bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam program kosmonot Rusia sebagai bagian dari penguatan kapasitas teknologi nasional.
"Bapak Presiden juga menyampaikan kemungkinan untuk Indonesia mengirimkan orang-orang terpilih dan terbaik untuk bisa mengikuti program kosmonot-nya Rusia," terang dia.
Setelah dari Moskow, Sugiono menjelaskan Prabowo melanjutkan perjalanan ke Paris untuk bertemu dengan Presiden Macron. Salah satu kerja sama yang dibahas adalah di bidang pendidikan, khususnya STEM.
"Yang kemudian diturunkan di dalam keinginan untuk bekerja sama di bidang pendidikan, khususnya di sektor STEM sehingga terjadi apa yang disebut satu kerja sama beyond procurement kita tidak hanya sebatas membeli saja, tetapi juga melakukan transfer teknologi dan penguasaan teknologi dari barang-barang yang kita beli," tandasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·