Kaspersky: Indonesia Rentan Serangan Backdoor

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PERUSAHAAN keamanan siber dan privasi digital global, Kaspersky, mengungkap Indonesia sebagai negara paling rentan terkena serangan backdoor di Asia Tenggara. Metode peretasan ini bekerja dengan menciptakan jalur masuk rahasia ke dalam sistem, jaringan, atau aplikasi yang kemudian menyusupkan malware ke perangkat tersebut.

Menurut Kaspersky, penyerangan ke sebuah sistem melalui backdoor termasuk ancaman siber paling berbahaya bagi bisnis. Metode ini disebut meningkat pada 2025 lalu yang menyasar sejumlah negara di Asia Tenggara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, hingga Vietnam. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Merujuk data Kaspersky, Indonesia dan Vietnam menyumbang sebagian besar insiden ini, masing-masing mencatat 1.583.035 dan 1.296.924 deteksi. Kemudian diikuti oleh Thailand dengan 251.502 kasus, Malaysia dengan 212.239, Singapura dengan 50.511, dan Filipina dengan 35.232 deteksi.

Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik Adrian Hia menyatakan kerentanan siber pada lini bisnis di Asia Tenggara meningkat secara keseluruhan sebanyak 17 persen pada 2025 dibanding tahun sebelumnya. “Meningkatnya deteksi ini menyoroti pergeseran kritis dalam lanskap ancaman di seluruh Asia Tenggara, dari menerobos ke dalam sistem menjadi bertahan di dalam sistem,” kata Hia melalui keterangan tertulisnya pada Selasa, 21 April 2026.

Hia menuturkan fenomena ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan berkelanjutan, deteksi canggih, dan kemampuan respons cepat untuk mengungkap akses tersembunyi dan mencegah serangan siber berkelanjutan. Ia menilai sebagai simpul penghubung utama ke rantai pasokan global, Asia Tenggara saat ini dianggap menjadi target utama kampanye siber bahaya. 

Berubahnya siklus bisnis belakangan ini yang beralih ke skema hibrida, kata Hia, seringkali melibatkan penggunaan perangkat yang tidak terkelola. Hal ini pula yang membuat serangan kepada sistem siber akan terus meluas. Hia menyatakan sangat penting bagi bisnis di seluruh wilayah untuk berinvestasi secara memadai dalam pengamanan perangkat mereka. “Tidak hanya untuk mencegah potensi kerugian finansial dan data, tetapi juga untuk menghindari terbentuknya saluran bagi kejahatan siber lebih lanjut.”