Mentan Andi Amran Sulaiman Soroti Rantai Distribusi Penyebab Pangan Mahal

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menanggapi kritik terkait tingginya harga pangan melalui diskusi bersama sejumlah pengamat di Gudang Bulog, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (23/4/2026). Amran menegaskan bahwa kondisi stok pangan nasional saat ini dalam posisi aman meskipun harga di tingkat konsumen masih melambung.

Berdasarkan data yang dilansir dari Money, cadangan beras pemerintah di lokasi tersebut tercatat mencapai 5.000.198 ton. Dalam pertemuan tersebut, Mentan menjelaskan bahwa persoalan harga bukan terletak pada sektor produksi di hulu, melainkan akibat rantai distribusi yang terlalu panjang dari petani hingga ke tangan konsumen.

Ekonom Ichsanuddin Noorsy memberikan catatan kritis mengenai struktur pasar yang saat ini terbentuk. Ia menyoroti adanya pihak-pihak yang mengambil keuntungan berlebihan dalam proses penyaluran barang.

“Mata rantai pasokan tetap dipegang oleh yang namanya pemburu rente, istilah saya pemburu rente. Dampaknya menjadi harga ujung tetap tinggi,” ujar Ichsanuddin Noorsy, Ekonom.

Menanggapi hal tersebut, Amran memaparkan bahwa pemerintah mengidentifikasi total keuntungan di tingkat perantara atau middleman mencapai angka Rp 313 triliun. Alur distribusi saat ini harus melewati berbagai tahapan mulai dari pengepul, distributor, hingga pengecer ritel yang masing-masing mengambil margin keuntungan.

“Ini kita perkecil menjadi tiga (tahapan) ini kehilangan kita Rp 313 triliun di sini Pak ini,” ujar Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Pemerintah berencana memangkas jalur tersebut melalui optimalisasi Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih agar transaksi bisa dilakukan langsung antara petani dan konsumen. Namun, analis politik Hendri Satrio mempertanyakan potensi resistensi dari para pelaku usaha yang selama ini menikmati keuntungan tersebut.

“Itu gimana nanganinnya middleman itu Pak kan mereka pasti protes tuh kehilangan Rp 313 triliun?” tanya Hendri Satrio, Analis Politik.

Amran menjelaskan bahwa langkah tegas sudah mulai diambil, termasuk penindakan hukum terhadap praktik mafia pangan. Ia memberikan contoh kasus pengoplosan beras yang mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat dan negara.

“Kalau 2 juta (kilogram) Rp 10 triliun Pak. Sehingga saya total semua yang dijual itu 100 triliun,” kata Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Dalam kasus tersebut, pelaku mengubah beras kualitas rendah menjadi beras premium dengan selisih harga mencapai Rp 9.000 per kilogram. Mentan menegaskan bahwa tindakan hukum merupakan konsekuensi bagi mereka yang melakukan praktik curang di tengah rantai pasok.

“ini yang ditangkap dan ini sudah di penjara. Clear ya itulah masuk di middleman,” lanjut Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Amran menekankan komitmennya untuk melindungi kepentingan publik di atas kepentingan kelompok tertentu. Ia menyatakan kesiapannya dalam menghadapi tantangan dari pihak-pihak yang tidak setuju dengan kebijakan pembersihan rantai distribusi.

“Pertanyaan saya Pak yang mana kejam satu belum selesai yang mana kejam yang memberantas 100 orang atau 1000 orang atau mafia lewat koruptor lewat silakan lewat monggo-monggo?” ujar Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Merespons ketegasan tersebut, Hendri Satrio kembali mempertanyakan sikap pemerintah jika para pelaku usaha tersebut melakukan perlawanan secara masif.

“Maksud saya begini Pak kan mereka pasti enggak diam aja Pak ditembak-tembakin begini?” kata Hendri Satrio, Analis Politik.

Menteri Pertanian menutup diskusi dengan menegaskan bahwa upaya pembenahan tata kelola pangan akan terus berlanjut. Ia mengibaratkan perselisihan kepentingan ini sebagai perjuangan yang sudah ada sejak lama.

“Pak sejak Nabi Adam Habil Qabil itu saling membunuh apalagi sekarang cucunya,” ujar Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Penegasan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah akan terus berupaya melakukan efisiensi rantai pasok demi menekan harga di pasar. Amran menekankan perlunya keberpihakan negara dalam menghadapi struktur pasar yang tidak sehat.

“Itulah Pak Hendri tidak bisa diselesaikan sampai kiamat cuma kita harus bertarung pemerintah atau mafia,” lanjut Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.