Mentan Minta Program Makan Bergizi Gratis Tidak Diganggu

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak diganggu karena berperan sebagai motor penggerak ekonomi desa yang menyerap produk 160 juta petani. Penegasan ini disampaikan usai acara Dialog Swasembada Pangan di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5/2026), dilansir dari Money.

Amran menjelaskan bahwa skema MBG merupakan instrumen strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional. Melalui program ini, pemerintah dapat mengintervensi pasar saat terjadi lonjakan pasokan yang memicu jatuhnya harga di tingkat produsen.

"Jadi MBG ini jangan diganggu, ini adalah motor penggerak ekonomi di desa," kata Amran, Menteri Pertanian.

Kementerian Pertanian mencontohkan langkah stabilisasi pada komoditas telur yang sering mengalami penurunan harga akibat kelebihan stok. Amran telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk menyesuaikan frekuensi penggunaan bahan pangan tertentu dalam menu harian siswa.

"Insya Allah satu mungkin satu minggu ke depan atau 5 hari 2 hari 3 hari langsung naik karena 60 juta orang konsumsi," ujar Amran, Menteri Pertanian.

Amran menekankan komitmen Presiden untuk melakukan perbaikan jika ditemukan kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Hal ini termasuk tindakan tegas dari aparat penegak hukum apabila ditemukan praktik korupsi dalam pengelolaan anggaran program tersebut.

"Itu komitmen Bapak Presiden," ujar Amran, Menteri Pertanian.

Dari kacamata politik, Amran menyebut program ini bukan langkah pencitraan yang instan untuk mendulang suara. Investasi gizi bagi ibu hamil dan anak-anak merupakan upaya jangka panjang yang manfaatnya baru akan terasa di masa depan.

"Anak-anak bergizi. Ini investasi jangka panjang. Kalau segi politik itu tidak menguntungkan," kata Amran, Menteri Pertanian.

Terakhir, Amran menyoroti anomali distribusi pangan di Indonesia yang terkadang tidak masuk akal. Ia mencontohkan kondisi di mana harga komoditas tetap tinggi di dalam negeri meskipun stok melimpah atau status Indonesia sebagai produsen utama dunia.

"Kita ekspor 32 juta ton. Lah kok di negeri sendiri naik. Enggak masuk akal kan?" ujar Amran, Menteri Pertanian.