Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong implementasi program biodiesel B50 dan bioetanol E20 sebagai strategi utama untuk mewujudkan kemandirian energi nasional.
“Ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis energi dunia sekarang. Yang pertama kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi seperti B50. B50 itu kan mengurangi impor solar kita. Yang ketiga adalah kita harus dorong ke E untuk bensin, etanol. E20,” kata Bahlil di Istana Merdeka, Jakarta, Senin.
Bahlil menjelaskan bahwa langkah diversifikasi bahan bakar ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam menghadapi potensi krisis energi global. Pengoptimalan produksi minyak dan gas bumi (lifting) juga menjadi prioritas yang dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Selain pengembangan bahan bakar nabati, pemerintah tengah mengkaji secara mendalam penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai solusi menekan ketergantungan pada impor liquefied petroleum gas (LPG). Saat ini, sebagian besar kebutuhan LPG domestik masih bergantung pada pasokan luar negeri.
“Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan. Saya harus finalisasi dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita dari sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” ujar Bahlil.
Baca juga: Bahlil: Pemerintah kaji pengembangan CNG untuk kurangi impor LPG
Dia menjelaskan konsumsi LPG nasional saat ini mencapai angka 8,6 juta ton per tahun. Namun, kemampuan produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton, sehingga pemerintah harus memutar otak untuk mencari substitusi yang tepat.
Bahlil memastikan bahwa meski tantangan impor masih membayangi, stok energi nasional dalam jangka pendek masih sangat aman. Ia menyebutkan bahwa spesifikasi produk BBM yang ada di pasar saat ini telah melampaui batas minimum yang ditetapkan pemerintah.
“Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin. Dari semua spek, Alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional. Jadi, Alhamdulillah sudah dua bulan, hampir dua bulan ketika kejadian geopolitik di Timur Tengah dengan Selat Hormuz, kita masih stabil,” ucapnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada ketersediaan minyak mentah (crude) yang digunakan untuk kebutuhan operasional kilang-kilang di Indonesia.
Menurut Bahlil, stok minyak mentah nasional berada dalam posisi stabil dan tidak mengalami kendala meski rantai pasok global sedang terganggu.
“Menyangkut dengan crude kita dalam rangka pengembangan refinery, juga Alhamdulillah stoknya di atas standar minimum nasional. Jadi, relatif nggak ada masalah,” tutur Menteri ESDM.
Baca juga: Menteri ESDM pastikan stok BBM dan minyak mentah masih aman
Baca juga: Kementerian ESDM uji penggunaan bahan bakar B50 pada kereta api
Baca juga: Kementerian ESDM matangkan uji laboratorium bahan bakar Bobibos
Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·