Lonjakan infeksi Ebola yang terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo telah mencapai 260 kasus seiring perluasan skala wabah oleh otoritas setempat, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Minggu (31/5/2026).
Menteri Kesehatan Kongo Roger Kamba menyampaikan data terbaru tersebut pada Sabtu (30/5/2026) dalam konferensi pers di Bunia, yang kini menjadi pusat penyebaran virus dari strain Bundibugyo yang langka tersebut.
Pemerintah Kongo juga mengonfirmasi kesepakatan dengan otoritas kesehatan Amerika Serikat untuk mendukung pengujian terapi antibodi eksperimental fase kedua di wilayah terdampak.
Kamba menjelaskan bahwa uji coba lanjutan ini ditujukan guna memastikan efektivitas dari pengobatan medis baru tersebut di lapangan.
"yang sangat menjanjikan," katanya.
Hingga saat ini, virus telah menyebar ke lebih dari selusin zona kesehatan yang tersebar di tiga provinsi Kongo, sementara negara tetangga Uganda telah mencatat sembilan kasus dengan satu kematian.
Wakil direktur operasi Médecins Sans Frontières, Alan Gonzalez, menyoroti lambatnya kapasitas pengujian yang membuat skala epidemi yang sebenarnya masih sulit dipetakan sepenuhnya.
"Realitas saat ini adalah tidak ada yang tahu skala dan tingkat keparahan sebenarnya dari wabah ini," kata Alan Gonzalez, wakil direktur operasi dari kelompok medis yang juga dikenal sebagai Médecins Sans Frontières, dalam sebuah pernyataan pada Sabtu.
Gonzalez menambahkan bahwa kecepatan penambahan kasus pasca-deklarasi merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah penanganan Ebola.
"Belum pernah sebelumnya wabah Ebola mencatat begitu banyak kasus begitu cepat setelah deklarasinya."
Pihak kementerian kesehatan melaporkan jumlah kasus suspek sempat turun menjadi 349 pada hari Kamis dari puncaknya 1.077 pada hari Selasa setelah validasi laboratorium.
Kapasitas pengujian kini ditingkatkan hingga mampu memproses 200 sampai 300 sampel per hari demi mempercepat identifikasi penularan di zona-zona infeksi.
Kendati demikian, penumpukan ratusan sampel yang belum diperiksa tetap menjadi kendala utama di tengah laporan harian kasus suspek baru, termasuk terinfeksinya lima petugas kesehatan di Bunia.
Organisasi Kesehatan Dunia melalui tim ahli independen merekomendasikan tiga kandidat terapi untuk penanganan strain ini, yaitu antibodi monoklonal MBP134, Maftivimab, serta antivirus remdesivir.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus tetap mengimbau masyarakat untuk segera mengakses layanan medis medis terdekat meskipun obat khusus strain ini belum disahkan secara reguler.
"Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo dapat disembuhkan dengan perawatan medis yang baik," katanya kepada wartawan pada Sabtu di Bunia, ibu kota provinsi Ituri di timur laut.
Tedros juga memberikan pembaruan mengenai adanya sejumlah pasien di wilayah Ituri yang saat ini sudah dinyatakan sembuh.
"Beberapa orang di sini di Ituri sudah pulih."
WHO turut mengkritik kebijakan penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan oleh sejumlah negara karena dinilai memperlambat distribusi bantuan internasional.
Kritik serupa disampaikan oleh Gonzalez yang menegaskan bahwa isolasi wilayah justru memperburuk keterbatasan jumlah organisasi medis ahli yang bertugas di area wabah.
"Kita tahu dari pengalaman bahwa langkah-langkah ini sangat menghambat penanggulangan wabah, dan mengisolasi negara-negara yang sangat membutuhkan dukungan internasional," menurut Gonzalez.
Kondisi di lapangan saat ini masih kekurangan dukungan penanggulangan yang memadai untuk mengatasi penyebaran virus secara cepat.
"Jumlah organisasi medis ahli yang merespons di lapangan masih terlalu terbatas, dan tingkat dukungan yang diberikan, termasuk dari kita sendiri, jauh dari yang dibutuhkan."
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·