Menteri PPPA Usul Pemindahan Gerbong Perempuan KRL ke Bagian Tengah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan evaluasi posisi gerbong khusus perempuan pada KRL Commuter Line menyusul kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada Selasa, 28 April 2026. Insiden tabrakan yang melibatkan gerbong perempuan tersebut mengakibatkan seluruh korban tewas berasal dari kalangan perempuan.

Penempatan gerbong khusus yang selama ini berada di ujung depan dan belakang rangkaian kereta menjadi poin utama evaluasi. Arifah menilai perubahan posisi perlu dilakukan demi meningkatkan aspek keselamatan bagi penumpang perempuan di masa mendatang.

"Kami mengusulkan agar ke depan gerbong perempuan ditempatkan di bagian tengah rangkaian kereta, sementara gerbong laki-laki berada di bagian depan dan belakang," kata Arifah di RSUD Chasbullah Abdul Madjid Kota Bekasi, Selasa, 28 April 2026.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Phinemo.com, bagian tengah rangkaian kereta api memang dianggap memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi. Saat terjadi benturan hebat, gerbong di area tengah cenderung tidak terdampak parah dibandingkan posisi paling ujung.

Dampak kecelakaan biasanya terpusat pada gerbong pertama dan terakhir yang sering kali mengalami deformasi atau keluar dari jalur rel. Situs Chinatrainbooking.com mencatat bahwa kedua posisi ujung tersebut merupakan titik paling rentan, baik saat terjadi tabrakan maupun ketika kereta anjlok.

Statistik dari lembaga profesional asing menunjukkan bahwa insiden kereta anjlok sembilan kali lebih sering terjadi daripada tabrakan. Antara tahun 2005 hingga 2014, tercatat sekitar 13.200 kasus kereta anjlok dibandingkan dengan 1.450 kasus tabrakan dari depan maupun belakang.

Penyebab utama anjloknya kereta api umumnya dipicu oleh kerusakan rel atau sambungan las yang tidak sempurna. Penelitian mengindikasikan bahwa peristiwa anjloknya rangkaian ini mayoritas terjadi di area yang dekat dengan bagian depan kereta.

Selama ini, penempatan gerbong perempuan di posisi paling ujung lebih didasarkan pada aspek pelayanan daripada keselamatan teknis. Posisi tersebut dipilih untuk memudahkan akses keluar-masuk penumpang guna mencegah penumpukan di peron serta meminimalisir risiko pelecehan seksual.

Rencana evaluasi posisi gerbong khusus ini sebenarnya pernah muncul pada tahun 2013 silam. Momentum tersebut dipicu oleh kecelakaan tragis tabrakan KRL dengan truk Pertamina yang menyebabkan gerbong khusus perempuan hangus terbakar.