Meta Memulai PHK Massal Delapan Ribu Karyawan Global Demi AI

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Meta Platforms mulai memangkas sekitar 8.000 pekerja secara global sejak Rabu, 20 Mei dini hari sebagai langkah transformasi besar menuju fokus kecerdasan buatan (AI), dilansir dari Tekno.

Gelombang pemutusan hubungan kerja tersebut diawali dari wilayah Singapura melalui pengiriman e-mail pemberitahuan, sebelum berlanjut ke negara lain seperti Inggris dan Amerika Serikat sesuai zona waktu masing-masing.

Pengurangan tenaga kerja ini diperkirakan berdampak pada 10 persen dari total pegawai korporasi. Kebijakan efisiensi tersebut diambil guna memindahkan sumber daya perusahaan ke sektor pengembangan produk dan agen kecerdasan buatan.

Sebelum restrukturisasi bergulir, induk perusahaan Facebook, Instagram, dan WhatsApp ini tercatat memiliki kurang dari 80.000 pekerja pada akhir Maret. Langkah perampingan organisasi ini utamanya menyasar divisi engineering serta produk.

Kepala SDM Meta, Janelle Gale, menjelaskan dalam memo internal bahwa perusahaan sedang mengarahkan struktur organisasi yang lebih mendatar.

"Kami sekarang berada pada tahap di mana banyak organisasi dapat beroperasi dengan struktur yang lebih datar, dengan tim kecil berbentuk pod/cohort yang bisa bergerak lebih cepat dan memiliki tanggung jawab lebih besar," tulis Gale dalam memo yang diverifikasi Bloomberg News.

Manajemen perusahaan meyakini perubahan format kerja ini akan memberikan dampak positif pada efisiensi operasional.

"Kami percaya ini akan membuat kami lebih produktif dan pekerjaan menjadi lebih memuaskan," lanjut Gale.

Untuk membiayai transformasi teknologi ini, CEO Meta Mark Zuckerberg mengalokasikan anggaran investasi kecerdasan buatan yang sangat besar, mencapai 100 miliar hingga 145 miliar dollar AS tahun ini.

Namun, langkah agresif korporasi memicu penolakan internal akibat adanya program pelacakan data aktivitas perangkat komputer karyawan untuk pelatihan AI. Lebih dari 1.000 pekerja menandatangani petisi keberatan terhadap kebijakan itu.

Seorang engineer Meta, Mack Ward, menyampaikan kritik keras melalui forum internal perusahaan mengenai kecepatan adopsi teknologi tersebut.

"AI itu seperti kereta barang yang melaju kencang, tapi masa depan belum ditentukan sepenuhnya. Belum terlambat untuk menginjak rem dan memikirkan bagaimana kita sebagai masyarakat ingin menghadapi ini," tulis Ward.

Ia juga mendorong rekan-rekannya untuk tetap berani menyampaikan aspirasi di tengah situasi sulit perusahaan.

"Bersuara memang tidak mudah, tapi ‘mudah’ bukan alasan kalian direkrut," lanjut Ward.

Kondisi restrukturisasi massal ini diakui memicu atmosfer kerja penuh kecemasan di kalangan staf internal.

Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, membenarkan adanya keresahan mendalam yang dirasakan oleh para staf mengenai kelanjutan karier mereka.

"Ada sangat banyak pegawai yang merasa cemas tentang masa depan mereka," kata Bosworth dalam sesi tanya jawab internal.

Pimpinan teknologi tersebut memilih untuk bersikap transparan dan tidak menutupi realitas pahit yang sedang dihadapi perusahaan.

"Semuanya buruk. Saya tidak akan mencoba mempermanis situasi ini," lanjut Bosworth.

Manajemen Meta kini telah menginstruksikan pembentukan tim baru bernama Applied AI and Engineering yang berisikan sekitar 2.000 pegawai di bawah pimpinan Wakil Presiden Engineering Maher Saba. Program pemangkasan hubungan kerja demi kecerdasan buatan ini juga mencerminkan tren serupa yang melanda raksasa teknologi lain seperti Cisco, Microsoft, Block, dan Coinbase.