Militer Amerika Serikat Serang Kapal dan Situs Rudal Iran

Sedang Trending 48 menit yang lalu

Pasukan militer Amerika Serikat menyerang sejumlah lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal milik Iran di wilayah Iran selatan pada Selasa (26/5/2026). Serangan mendadak ini diklaim oleh pihak Washington sebagai tindakan pembelaan diri demi melindungi pasukannya yang berada di kawasan tersebut.

Aksi militer ini dilansir dari Detikcom yang mengutip laporan kantor berita Al Jazeera dan AFP. Di saat yang sama, ledakan keras dilaporkan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas, meskipun kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, menyatakan situasi saat ini sudah berhasil dikendalikan.

Juru bicara Komando Pusat militer Amerika Serikat memberikan penjelasan resmi terkait target operasi tersebut. Serangan difokuskan pada titik-titik yang dinilai menjadi ancaman langsung bagi keamanan pasukan sekutu.

"Pasukan AS melakukan tindakan membela diri hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran," kata Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat militer AS.

Pihak militer Amerika Serikat juga merinci jenis fasilitas yang dihancurkan dalam operasi udara tersebut. Target utama mencakup infrastruktur persenjataan dan armada laut yang terindikasi melakukan aktivitas ofensif.

"Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau. Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung," kata Hawkins.

Ketegangan bersenjata ini terjadi tepat ketika kedua belah pihak sedang merumuskan draf kesepakatan diplomatik. Berdasarkan laporan media AS, Axios, kedua negara sebelumnya dijadwalkan menandatangani perjanjian yang mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Dalam draf nota kesepahaman tersebut, Iran diwajibkan membersihkan ranjau di Selat Hormuz agar kapal dagang dapat melintas tanpa pungutan tol. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan mencabut blokade pelabuhan dan memberikan pengecualian sanksi terbatas agar Teheran bisa mengekspor minyak secara bebas selama dua bulan.

Namun, draf kesepakatan tersebut belum bersifat final dan masih berisiko gagal. Dokumen tersebut juga masih membutuhkan persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, sebuah proses birokrasi yang diperkirakan memakan waktu beberapa hari.