Bank Indonesia melaporkan aliran modal asing masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI mencapai Rp54,3 triliun secara tahun kalender hingga April 2026. Capaian ini dipicu kebijakan penyesuaian suku bunga yang dilakukan bank sentral guna meningkatkan daya tarik investasi bagi investor global.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, performa positif instrumen moneter ini terlihat dari catatan akumulasi arus modal pada bulan April 2026 saja yang telah menyentuh angka Rp29 triliun. Angka tersebut menambah tren positif yang sebelumnya sudah terlihat pada Maret dengan catatan masuknya dana sebesar Rp32,5 triliun.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam Rapat Dewan Gubernur pada Rabu, 22 April 2026, menjelaskan bahwa penyesuaian suku bunga dilakukan secara bertahap agar instrumen ini tetap kompetitif di pasar global.
"Di bulan April ini adanya inflow untuk yang SRBI terus berlanjut, di mana hanya di bulan April saja terjadi inflow sampai Rp29 triliun, sehingga year to date untuk SRBI sudah terjadi inflow sebesar Rp54,3 triliun," kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.
Selain SRBI, instrumen Surat Berharga Negara atau SBN juga mencatatkan aliran modal masuk bersih sebesar Rp10,11 triliun pada periode April 2026. Peningkatan juga terjadi pada Surat Berharga Valas Bank Indonesia atau SVBI yang naik sekitar 400 juta dolar AS.
"Kemudian juga menarik dari instrumen di operasi moneter BI juga, kami punya data terkait dengan instrumen SVBI, SVBI yaitu Surat Berharga Valas Bank Indonesia. Kami juga melihat di bulan April ini terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu sekitar Rp400 juta dolar," beber Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.
Ketersediaan likuiditas dolar di pasar domestik saat ini dinilai masih cukup memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk melakukan intervensi guna memitigasi fluktuasi mata uang di berbagai pasar keuangan dunia.
"Dan sekali lagi saya ingin tekankan bahwa BI akan terus berada di market 24 jam, baik itu di pasar Indonesia, kemudian di offshore, baik itu di Eropa, Amerika, dan juga pasar global lainnya. Semua kita upayakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," jelas Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.
Hingga 20 April 2026, akumulasi aliran modal secara keseluruhan mencatat angka positif sebesar 1,9 miliar dolar AS. Peningkatan imbal hasil pada instrumen SRBI dan SBN menjadi faktor utama yang mendorong minat investor nonresiden untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Data Bank Indonesia per 21 April 2026 menunjukkan total posisi instrumen moneter SRBI berada pada angka Rp885,41 triliun. Dari jumlah tersebut, kepemilikan pihak asing atau nonresiden tercatat sebesar Rp165,98 triliun atau setara dengan 18,75 persen dari total outstanding yang ada.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·