Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegur Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, David Partonggo Olan Marpaung, saat menghadiri kegiatan Bakti Sungai Nusantara di kawasan Rawajati-Bidara Cina, Jakarta Timur, Senin (11/5).
Momen itu terjadi ketika AHY sedang menjelaskan soal penanganan banjir Jakarta, mulai dari normalisasi sungai hingga pelebaran Kali Ciliwung agar mampu menampung debit air lebih besar.
Awalnya, AHY memaparkan lebar ideal Sungai Ciliwung seharusnya mencapai 35 hingga 50 meter agar bisa menampung sekitar 470 meter kubik air per detik. Saat itu, ia beberapa kali menyebut penjelasan dari Kepala Balai.
“Betul Pak Kepala Balai?” kata AHY.
Namun, David tidak berada di tempat ketika dipanggil. AHY lalu menghentikan penjelasannya dan meminta David kembali duduk untuk mendengarkan arahan.
“Eh Pak Kepala Balai di sini dulu, eh mana sih? Saya bicara untuk Bapak loh. Mau ke mana? Tadi ke mana tadi? No no no no no, Anda dengarkan saya dulu di sini. Gimana mau mendengar arahan kalau Bapak nggak ada? Dua kali saya panggil nggak ada gitu loh ya,” ujar AHY.
“Nggak bisa begitu, tolong duduk dulu, duduk dulu, dengerin pake mic dulu, duduk Pak. Saya dua kali masalahnya manggil kok nggak ada gitu loh,” lanjut dia.
AHY kemudian meminta David fokus mendengarkan penjelasannya terkait kebijakan penanganan banjir dan normalisasi sungai.
“Saya me-refer Bapak tadi, Bapak menyampaikan data saya me-refer ini, Bapak tolong dengarkan supaya menjadi utuh ya. Menjadi utuh ini kebijakan penting sekali Pak,” kata dia.
Penangan Banjir dari Hulu ke Hilir
AHY menekankan, penanganan banjir Jakarta tak bisa dilakukan secara parsial. Menurut dia, penanganan Sungai Ciliwung harus dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari kawasan Puncak di Bogor hingga bermuara ke Laut Jawa.
AHY mengatakan, pemerintah tengah melakukan normalisasi sungai sepanjang 33 kilometer. Dari jumlah itu, sekitar 17 kilometer telah dikerjakan, sementara sisanya masih terkendala pembebasan lahan.
Ia juga menyoroti banyaknya bangunan liar dan sampah di bantaran sungai yang mempersempit aliran air dan memperparah banjir saat hujan deras.
“Kalau asal buang sampah sudah pasti akan terjadi kebuntuan. Mau dibuat sodetan-sodetan sebanyak apa pun ya Bu Menteri, Bu Wamen ya, kita sulit untuk mengalirkan air yang deras apalagi kalau debitnya juga tinggi,” ucap AHY.
Selain pembangunan fisik seperti tanggul dan pengerukan sungai, AHY menilai kesadaran masyarakat menjaga lingkungan juga menjadi kunci utama mengatasi banjir di Jakarta.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·