Morgan Stanley memperingatkan bahwa pasar minyak global sedang dalam persaingan ketat melawan waktu menyusul risiko penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan hingga Juni 2026 akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini mengancam ketahanan pasokan energi dunia yang sebelumnya masih tertahan oleh cadangan strategis.
Kenaikan harga minyak mentah terjadi secara signifikan sejak pecahnya perang pada akhir Februari 2026, yang memicu blokade ganda di jalur pelayaran vital tersebut. Dilansir dari Bloombergtechnoz, lembaga keuangan tersebut menilai faktor penyeimbang pasar saat ini memiliki batas waktu yang terbatas.
Analis Morgan Stanley, termasuk Martijn Rats, menjelaskan bahwa meskipun pasar kehilangan hampir 1 miliar barel, harga kontrak berjangka belum melampaui rekor tertinggi tahun 2022. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan cadangan yang memadai saat krisis dimulai serta harapan investor akan pembukaan kembali jalur pelayaran.
"perlombaan melawan waktu" kata para analis termasuk Martijn Rats dalam catatan.
Peningkatan ekspor dari Amerika Serikat dan penurunan impor oleh China disebut menjadi faktor kunci yang meredam guncangan pasar saat ini. Namun, para analis memberikan catatan mengenai keberlanjutan kondisi tersebut di masa depan jika blokade terus berlanjut.
"dapat menyebabkan ketatnya kembali pasokan," kata mereka.
Tekanan terhadap kapasitas ekspor Amerika Serikat mulai terlihat meskipun negara tersebut saat ini masih mampu mengirimkan pasokan dalam volume besar ke pasar global. Hal yang sama berlaku bagi ketahanan stok energi di kawasan Asia.
"kemampuan AS untuk melanjutkan tingkat ekspor yang tinggi ini sulit diukur, tetapi tampaknya berada di bawah tekanan yang lebih besar," kata mereka.
Skenario dasar bank memproyeksikan Selat Hormuz akan dibuka sebelum Amerika Serikat terpaksa memangkas ekspor dan China menghentikan pengurangan impornya. Jika gangguan melampaui bulan Juni, pasar akan menghadapi tantangan harga yang jauh lebih berat.
"Jalurnya penting: pembukaan kembali pada Juni dengan penyangga AS dan China masih sebagian utuh adalah skenario dasar; penutupan yang berlanjut hingga akhir Juni atau bahkan Juli adalah skenario di mana harga Brent harus menghadapi tantangan yang sejauh ini dapat dihindari," kata mereka, merujuk pada kontrak berjangka untuk patokan minyak mentah global.
Dalam proyeksi dasar tersebut, harga Dated Brent diperkirakan berada di level US$110 per barel pada kuartal ini dan turun secara bertahap hingga US$90 pada akhir tahun. Namun, dalam skenario terburuk atau bullish, harga diprediksi melonjak ke rentang US$130 hingga US$150 per barel.
"Peningkatan ekspor AS sebesar 3,8 juta barel per hari dan pengurangan impor China sebesar 5,5 juta barel per hari telah melindungi negara-negara lain di dunia dari kekurangan pasokan sebesar 9,3 juta barel per hari—jumlah yang sangat signifikan," kata para analis dalam bagian berjudul A Race Against Time.
Pada Senin, 11 Mei 2026, harga minyak mentah Brent tercatat naik 4,6 persen menjadi US$105,99 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak respons terbaru dari pihak Iran terkait proposal penghentian konflik.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·