MTI Beberkan Urgensi Flyover di Perlintasan Kereta Bekasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

WAKIL Ketua Forum Perkeretaapian MTI Muhammad Fahmi Arsyad mengimbau agar pemerintah melakukan kajian teknis sebelum membangun jalan layang atau flyover di perlintasan kereta di Bekasi. “Flyover adalah solusi strategis, tetapi tetap harus menjadi bagian dari perencanaan terpadu, bukan respons reaktif semata terhadap satu kejadian,” katanya melalui pesan teks pada Selasa, 28 April 2026.

Kajian teknis yang dimaksud Fahmi meliputi volume lalu lintas, frekuensi kereta, hingga tingkat kecelakaan. Selain itu, ia menekankan perlunya analisis manfaat dan biaya, serta kesiapan pembebasan lahan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Adapun rencana pembangunan flyover di perlintasan kereta disampaikan Presiden Prabowo Subianto setelah terjadi kecelakaan kereta api di Bekasi, Jawa Barat antara KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek. Menanggapi rencana tersebut, Fahmi mengatakan penghilangan perlintasan sebidang melalui flyover menjadi solusi paling efektif untuk meningkatkan keselamatan dan kapasitas jaringan.

Dari sisi urgensi, kata Fahmi, Bekasi merupakan salah satu koridor dengan lalu lintas kereta yang sangat padat, sehingga tingkat konflik antara kereta dan pengguna jalan relatif tinggi.

Fahmi menekankan keselamatan perkeretaapian menjadi tanggung jawab bersama yang melibatkan operator, regulator, pemerintah daerah, dan masyarakat. “Pendekatan yang dibutuhkan bukan hanya teknis-operasional, tetapi juga struktural melalui penataan ruang dan pengendalian akses terhadap jalur kereta,” katanya.

Presiden Prabowo menyoroti masalah perlintasan sebidang di Pulau Jawa. Menurut dia, banyaknya perlintasan kereta api dan jalan raya yang tidak dijaga menjadi salah satu alasan kecelakaan kereta api masih bisa terjadi.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad mengatakan Prabowo akan memberikan bantuan ratusan miliar untuk pembangunan flyover di Bekasi menyusul peristiwa kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026.

Menurut Dasco, pemerintah daerah Bekasi telah merencanakan pembangunan flyover Bulak Kapal untuk mengatasi padatnya perlintasan kereta tapi terhalang oleh keterbatasan anggaran. “Saya sudah menyampaikan hal ini kepada Pak Presiden dan minta supaya diberikan Bantuan Presiden agar flyover bisa terealisasi. Dan Pak Presiden Alhamdulillah sudah menyetujui Banpres sebesar Rp 200 miliar,” kata Ketua Harian Partai Gerindra ini saat dihubungi pada Selasa, 28 April 2026.

Dasco menerangkan, flyover itu ditargetkan selesai dibangun dalam empat hingga lima bulan ke depan. Berdasarkan informasi yang diterima Dasco dari Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono, keberadaan jalan layang di perlintasan kereta diprediksi dapat mencegah kecelakaan hingga 90 persen.

Kecelakaan bermula ketika kereta KRL sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Kereta itu berhenti akibat gangguan karena terjadi tabrakan antara KRL dan taksi listrik di arah berlawanan.

Dari arah belakang, Kereta Api Argo Bromo Anggrek melaju dan langsung menghantam badan KRL yang sedang berhenti di stasiun tersebut. Tabrakan itu membuat gerbong khusus perempuan di KRL ringsek.

Insiden itu merenggut nyawa 15 perempuan yang menjadi penumpang KRL. Sementara itu, sekitar 84 penumpang KRL lainnya luka-luka.

Dian Rahma Fika Alnina berkontribusi dalam penulisan artikel ini