PIMPINAN Pusat (PP) Muhammadiyah menyoroti momentum Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas yang jatuh pada Rabu, 20 Mei 2026.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menuturkan momentum Kebangkitan Nasional menjadi lonceng pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan memajukan Indonesia
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Indonesia tidak boleh berjalan di tempat dan merasa cukup dengan capaian yang ada saat ini," kata Haedar, Rabu, 20 Mei 2026.
Haedar pun menyinggung bahwa masih banyak aspek kehidupan bangsa yang perlu dibenahi agar Indonesia mampu sejajar dengan negara-negara maju, termasuk di kawasan ASEAN.
"Untuk mengatasi kondisi bangsa yang stagnan, diperlukan rancang bangun pembangunan nasional yang komprehensif dengan agenda strategis yang terprogram secara sistematis dan berkelanjutan, bukan langkah yang bersifat sporadis," ujarnya.
Langkah itu, kata Haedar, penting agar arah masa depan Indonesia menjadi lebih terukur dan tidak sekadar berjalan tanpa pencapaian yang signifikan dari tahun ke tahun.
“Indonesia harus memiliki arah yang jelas menuju negara maju dengan fondasi yang kokoh dan tujuan yang terfokus,” kata dia.
Ia mengingatkan kemajuan bangsa tidak cukup hanya diukur dari aspek demokrasi formal, hak asasi manusia, dan pluralisme. Kemajuan Indonesia harus diwujudkan melalui penguatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengelolaan sumber daya alam yang baik, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdaya saing tinggi.
Selain itu, perkembangan tersebut juga harus ditopang oleh karakter bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika luhur, dan budaya berkemajuan.
"Pemerintah memiliki peran penting sebagai aktor utama pembangunan yang mampu menghadirkan arah kebijakan yang jelas dan menjadi rujukan bersama," kata dia.
Di sisi lain, Haedar mengajak masyarakat untuk menumbuhkan budaya maju dalam kehidupan sehari-hari. Seperti membiasakan membaca, mengunjungi perpustakaan, serta memanfaatkan media sosial sebagai ruang pengembangan pengetahuan dan literasi.
Haedar menuturkan, peringatan Kebangkitan Nasional yang merujuk pada lahirnya Boedi Oetomo tahun 1908 perlu dimaknai lebih luas sebagai tonggak lahirnya kesadaran kebangsaan Indonesia yang digerakkan oleh berbagai elemen, seperti Sarekat Dagang Islam pimpinan Haji Samanhoedi pada 1905 yang berkembang menjadi Sarekat Islam di bawah HOS Tjokroaminoto pada 1911, serta Muhammadiyah yang hadir pada 1912 melalui gerakan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan kepanduan kebangsaan.
“Jadi Kebangkitan Nasional harus jadi momentum untuk membangkitkan jiwa kebangsaan yang membawa Indonesia maju secara progresif,” ujarnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·