Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup merosot 106 poin atau 0,62 persen ke level Rp17.287 pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia menyusul eskalasi konflik antara AS dan Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan bahwa kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda. Selain faktor eksternal, sentimen domestik turut diperparah oleh aksi jual obligasi pemerintah di pasar modal.
"Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat berlanjutnya perang AS dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz," ucap Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara kepada ANTARA.
Situasi memanas setelah negosiasi damai dan gencatan senjata putaran kedua di Pakistan gagal terlaksana. Iran absen dari pertemuan tersebut sebagai bentuk protes atas langkah Amerika Serikat yang melakukan blokade di jalur perdagangan vital Selat Hormuz.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pelanggaran komitmen, tindakan blokade di Selat Hormuz, serta ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi, sebagaimana dilaporkan Sputnik.
"Iran selalu menyambut dan terus membuka diri terhadap dialog dan kesepakatan. Namun, itikad buruk, pengepungan, dan ancaman dari AS merupakan penghalang utama bagi negosiasi yang tulus," kata Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
Pezeshkian menilai dunia sedang melihat adanya ketidakkonsistenan antara pernyataan diplomatik dengan tindakan nyata di lapangan.
"Dunia menyaksikan retorika kosong yang penuh kemunafikan serta kontradiksi antara klaim dan tindakan," tegas Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
Laporan dari Anadolu menyebutkan ketidakpastian gencatan senjata memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Data Xinhua menunjukkan harga minyak mentah Brent menyentuh 102,25 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik ke level 93,47 dolar AS per barel.
Di pasar domestik, tekanan terhadap rupiah tercermin dari naiknya imbal hasil obligasi pemerintah pada berbagai tenor. Peningkatan ini menunjukkan adanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi ke depan.
"Imbal hasil tenor 1 tahun naik 9,5 basis points (bps), 2 tahun 2,1 bps. Begitu juga 3 dan 4 tahun masing-masing 10,2 bps dan 12,2 bps. Tenor 5 tahun naik 12,2 bps, bahkan tenor acuan 10 tahun naik 9,1 bps menjadi 6,73 persen," ungkap Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara.
Pelemahan juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang berakhir di level Rp17.308 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan depresiasi dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di angka Rp17.179 per dolar AS.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·