Makassar (ANTARA) - Penulis muda Nadhifa Allya Tsana yang lebih dikenal dengan nama pena "Rintik Sedu" menilai dunia media sosial saat ini jauh membuat budaya literasi semakin dekat generasi muda.
"Saya melihat literasi ini semakin dekat dengan anak-anak muda dan media sosial lebih mendekatkan mereka," ujarnya usai menghadiri wisata buku (tour book) di Makassar, Minggu.
Menurut Nadhifa, perkembangan platform digital membuat akses terhadap bacaan dan diskusi literasi menjadi jauh lebih terbuka dibandingkan sebelumnya.
Baca juga: Sastrawan sebut perkembangan karya sastra generasi Z maju pesat
Ia melihat anak-anak muda kini lebih mudah menemukan ruang untuk membaca, berbagi, hingga mendiskusikan karya sastra melalui media sosial.
"Saya melihat literasi ini semakin dekat dengan anak-anak muda dan media sosial lebih mendekatkan mereka,” katanya.
Ia mengungkapkan, pada awal dirinya aktif menulis dan menggunakan media sosial seperti Instagram, cukup sulit menemukan komunitas atau forum yang memiliki minat bacaan serupa.
Baca juga: UWRF 2025 angkat tema Aham Brahmasmi-I Am the Universe
Namun kondisi tersebut kini telah berubah signifikan. Media sosial justru menjadi jembatan yang mempertemukan para pembaca dan penulis dengan minat yang sama, sekaligus memunculkan kembali gairah literasi di kalangan generasi muda.
Nadhifa mencontohkan, buku-buku yang dahulu ia baca seperti Luka, Ronggeng, dan Dukuh Paruk kini semakin sering muncul di berbagai platform digital, lengkap dengan ulasan dan diskusi dari para pembaca.
"Hal ini menunjukkan bahwa karya sastra memiliki audiens yang luas dan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi," tuturnya.
Baca juga: Kemenbud mulai penerjemahan sastra klasik dukung karya lokal mendunia
Ia juga menilai bahwa kehadiran berbagai forum diskusi buku di media sosial membuka peluang besar bagi penulis untuk terhubung langsung dengan pembaca. Interaksi tersebut tidak hanya memperkaya perspektif, tetapi juga memperkuat ekosistem literasi yang lebih inklusif dan kolaboratif.
Lebih lanjut, Nadhifa menekankan bahwa literasi sejatinya memiliki jalannya sendiri untuk kembali kepada setiap individu. Namun, menurutnya, upaya tersebut perlu didukung dengan semangat kolaborasi antara sesama pembaca dan penulis.
“Sesama pembaca dan penulis itu harus sama-sama dalam kolaborasi dan tidak boleh disimpan,” ucap gadis kelahiran 1998 itu.
Nadhifa berharap tren positif ini terus berkembang sehingga budaya literasi di Indonesia semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda yang kini semakin akrab dengan teknologi digital.
Baca juga: Mengenal perbedaan cerpen dan novel dalam karya sastra
Baca juga: Menulis sastra untuk melembutkan dan menyehatkan jiwa
Pewarta: Muh. Hasanuddin
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·