Para kiai kumpul di Kediri dorong dukungan negara perkuat pesantren

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Para kiai di berbagai wilayah di Indonesia berkumpul dalam Multaqa Ru'asa' al-Ma'ahid di Pondok Pesantren Al-Amien, Kediri, Jawa Timur, guna mendorong negara agar memberikan dukungan dalam memperkuat lembaga pendidikan pondok pesantren.

Forum itu juga menjadi ruang musyawarah strategis para kiai, pengasuh pesantren, ulama, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, ramah anak, serta penjaga moralitas generasi bangsa.

“Pesantren telah berkontribusi besar dalam membangun karakter, moral, dan akhlak bangsa. Karena itu sudah saatnya negara memberikan perhatian yang lebih kuat kepada pesantren,” ujar Ketua Umum MUI Anwar Iskandar dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Kyai Anwar mengingatkan pentingnya membangun strategi komunikasi yang lebih baik agar masyarakat memperoleh informasi yang berimbang tentang dunia pesantren.

Apalagi maraknya sorotan publik terhadap berbagai kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan. Padahal kasus yang ada hanya secuil dari berbagai prestasi dan inovasi besar pesantren bagi dunia pendidikan dan negara.

“Jangan sampai berbagai prestasi, inovasi, dan kontribusi besar pesantren tertutupi oleh pemberitaan yang hanya menyoroti sisi negatif semata,” katanya.

Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengingatkan bahwa berbagai persoalan yang muncul di pesantren tidak bisa semata-mata dibebankan kepada lembaga pesantren.

Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam mendukung penguatan pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

“Pesantren telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pesantren menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan perjuangan masyarakat selama ratusan tahun. Karena itu negara perlu hadir lebih nyata dalam memperkuat pesantren,” katanya.

Basnang menjelaskan lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menjadi tonggak penting pengakuan negara terhadap pesantren. Namun demikian, implementasi berbagai regulasi turunan, terutama terkait pendanaan pesantren, masih memerlukan perhatian serius.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan data santri, peningkatan kesejahteraan musyrif dan musyrifah, serta kemudahan akses layanan kesehatan bagi para santri yang berasal dari berbagai daerah.

Ketua Panitia sekaligus Wakil Sekretaris Komisi Pesantren MUI M. Faried Muttaqin Iskandar menyampaikan pesantren memiliki tantangan besar di tengah derasnya arus informasi digital.

Menurutnya, berbagai pemberitaan negatif tentang pesantren kerap mendominasi ruang publik dan media sosial, meskipun secara statistik kasus yang terjadi di pesantren hanya sebagian kecil dari keseluruhan kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia.

"Berdasarkan data tahun 2025, terdapat sekitar 1.117 kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren dari total 91.813 kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia. Namun yang sering menjadi sorotan publik justru kasus-kasus yang terjadi di pesantren," ujar Gus Faried.

Ia menilai tingginya ekspektasi masyarakat terhadap pesantren membuat setiap kasus yang muncul mendapat perhatian besar. Karena itu, pesantren perlu lebih aktif menyampaikan berbagai praktik baik, prestasi, dan kontribusinya kepada masyarakat.

“Jika kita tidak aktif menyampaikan informasi positif tentang pesantren, maka kepercayaan masyarakat bisa tergerus. Padahal pesantren adalah tempat yang aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak-anak Indonesia,” katanya.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: A Rauf Andar Adipati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.