Pasangan Pengantin di Cakung Tertipu Wedding Organizer Senilai Rp 85,5 Juta

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Pasangan kekasih Aldi (32) dan Feny (32) menjadi korban penipuan oleh sebuah penyedia jasa pernikahan atau wedding organizer (WO) di kawasan Cakung, Jakarta Timur menjelang hari pernikahan mereka. Kerugian akibat insiden ini mencapai Rp 85,5 juta, sehingga membuat kedua mempelai terpaksa melaksanakan acara resepsi dengan segala keterbatasan, seperti dilansir dari Detikcom.

Kasus penipuan ini telah dilaporkan secara resmi kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Antara, korban awalnya tertarik menggunakan jasa WO tersebut setelah melihat penawaran paket pernikahan melalui media sosial Instagram.

Proses transaksi berjalan bertahap setelah pembayaran uang muka, termasuk saat kedua korban mengikuti sesi uji coba makanan dan pencocokan busana pengantin di kantor WO yang berlokasi di Jakarta Garden City (JGC). Korban kemudian melunasi seluruh biaya pada awal April 2026 dan sempat menambah jumlah pesanan tamu pada 11 Mei 2026.

Kecurigaan mulai muncul ketika pihak WO mengadakan rapat persiapan atau technical meeting secara daring. Pertemuan tersebut dinilai berjalan sangat tidak profesional dan berlangsung terlalu singkat.

"Technical meeting cuma sekitar 10 menit dan sangat tidak detail. Saya tanya soal rundown, alur masuk venue, pembagian sesi tamu, semuanya dijawab nanti diinformasikan satu hari sebelum acara (H-1)," jelas Feny, dikutip Antara, Senin (24/5/2026).

Kecurigaan Feny semakin menguat setelah mendengar keluhan dari korban lain mengenai keterlambatan katering dan porsi makanan yang tidak sesuai. Masalah memuncak pada 13 Mei 2026 atau H-10 acara ketika pengelola Gedung Islamic Center Bekasi mengabarkan bahwa biaya sewa belum dilunasi oleh WO.

"Dari pihak Islamic Center bilang masih kurang pembayaran sekitar Rp17,5 juta. Ternyata, pihak WO baru bayar DP sekitar Rp6 juta," ujar Feny.

Pihak WO sama sekali tidak memberikan respons yang jelas saat dihubungi berulang kali oleh korban mengenai kekurangan pembayaran tersebut. Pada H-1 pernikahan, Aldi dan Feny memutuskan mendatangi langsung kantor WO di JGC, namun tempat tersebut sudah dalam keadaan kosong.

"Pas kita datang, ternyata galerinya sudah kosong. Kata orang sekitar, pindah ke Rorotan," ungkap Aldi.

Pasangan ini lalu melacak keberadaan gudang WO hingga ke daerah Rorotan dan bertemu dengan pihak pengelola. Dalam pertemuan itu, pengelola WO terus memberikan alasan yang berbelit-belit mengenai pelunasan uang sewa lokasi acara.

"Kita minta kepastian pembayaran karena sudah H-1. Mereka bilang deposito belum cair dan janji akan dibayar jam empat sore," ucap Aldi.

Pemilik WO sempat menandatangani surat pernyataan bermeterai untuk bertanggung jawab atas pelaksanaan acara sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi dengan alasan urusan lain. Kondisi semakin kacau saat para pekerja dekorasi dan katering mengaku tidak mendapatkan arahan, bahkan sebagian memilih pergi dari lokasi.

"Kami akhirnya yakin acara resepsi kemungkinan besar tidak akan berjalan," tutur Aldi.