Moskow (ANTARA) - Situasi di Iran telah memicu masalah pada pasokan asam sulfat global, yang menyebabkan kenaikan tajam harga komoditas tersebut, lapor Wall Street Journal.
Surat kabar tersebut, sebagaimana dilaporkan Sputnik, Minggu, mencatat bahwa asam sulfat digunakan untuk memproduksi pupuk, serta untuk melarutkan tembaga dan logam lainnya. Sebagian besar pasokan asam tersebut berasal dari kilang minyak di kawasan Teluk Persia.
Pakar pasar Freda Gordon, kepala Acuity Commodities, mengatakan kepada surat kabar itu bahwa ancaman terhadap pasar pupuk mendorong China, produsen asam terbesar di dunia, untuk membatasi ekspor bulan ini. Menurutnya, langkah tersebut telah menyebabkan harga naik dan semakin memperburuk kekurangan asam sulfat.
Senada, Sarah Marlow, pakar pasar pupuk dari Argus, menambahkan bahwa Chile dan Indonesia kemungkinan menjadi negara yang paling terdampak oleh pembatasan ekspor asam sulfat dari China.
Pada April lalu, Bloomberg melaporkan dengan mengutip sumber bahwa China sedang mempertimbangkan larangan ekspor asam sulfat mulai Mei 2026 akibat gangguan pasokan di tengah konflik Timur Tengah.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap target-target di Iran. Eskalasi tersebut hampir sepenuhnya menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dan gas dunia, sehingga memicu kenaikan harga bahan bakar di banyak negara.
Harga asam sulfat, yang merupakan produk sampingan dari pengolahan minyak, juga ikut meningkat di Timur Tengah akibat konflik tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: AS klaim blokir sedikitnya 70 tanker dari pelabuhan Iran
Baca juga: Selat Hormuz memanas, tanker China diserang di pesisir Uni Emirat Arab
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·