Paus Leo XIV Desak Regulasi Ketat Kecerdasan Buatan Melalui Ensiklik Vatikan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemimpin tertinggi umat Katolik Paus Leo XIV resmi merilis ensiklik pertama bertajuk Magnifica Humanitas di Vatikan pada Senin (25/5/2026) waktu setempat, yang menyerukan regulasi ketat terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari Tekno, dokumen resmi paling penting dalam Gereja Katolik ini menyoroti perlunya pengawasan independen dan kerangka hukum kuat agar teknologi AI mengutamakan kepentingan manusia di atas keuntungan bisnis korporasi.

Paus Leo XIV menegaskan bahwa etika abstrak tidak lagi cukup untuk mengawal perkembangan teknologi yang masif ini sehingga diperlukan tindakan nyata dari para pengambil kebijakan politik dunia.

“Tidak cukup hanya berbicara soal etika secara abstrak. Dibutuhkan kerangka hukum yang kuat, pengawasan independen, pengguna yang teredukasi, serta sistem politik yang tidak lepas tangan dari tanggung jawab,” tulis Pope Leo XIV dalam dokumen tersebut.

Keputusan mematikan dalam sistem senjata otomatis yang berbasis kecerdasan buatan juga menjadi perhatian serius pemimpin Gereja Katolik kelahiran 14 September 1955 tersebut.

“AI sekarang perlu dilucuti dari logika yang menjadikannya alat dominasi, eksklusi, dan kematian,” kata Paus Leo XIV saat peluncuran dokumen tersebut di Vatikan.

Sebelum ensiklik ini dirilis, sejumlah raksasa teknologi seperti Meta, Google, Amazon, hingga OpenAI dilaporkan aktif mendekati pejabat Vatikan untuk berdialog mengenai pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Co-founder perusahaan AI Anthropic Christopher Olah menghadiri langsung peluncuran tersebut dan mengakui adanya tekanan bisnis besar yang dihadapi oleh para pengembang teknologi saat ini.

“Setiap laboratorium frontier AI, termasuk Anthropic, beroperasi di bawah tekanan dan insentif bisnis yang terkadang bisa bertentangan dengan melakukan hal yang benar,” kata Olah.

Olah menambahkan bahwa kekhawatiran Paus Leo XIV sangat beralasan karena teknologi kecerdasan buatan berpotensi menggantikan lapangan kerja manusia dalam skala yang sangat masif.

“Ada kemungkinan nyata bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia dalam skala sangat besar,” ujar Olah.

Guna mengantisipasi dampak buruk tersebut, ia mendorong keterlibatan aktif dari berbagai elemen masyarakat di luar industri teknologi untuk mengawasi perkembangan teknologi ini.

“Kita membutuhkan lebih banyak pihak seperti yang dilakukan Yang Mulia Paus di sini, melihat isu ini dengan serius dan mendorong perkembangan AI ke arah yang lebih baik,” kata Olah.

Menurut Olah, keberadaan institusi moral sangat dibutuhkan untuk menjaga arah pengembangan kecerdasan buatan agar tidak menyimpang akibat kepentingan komersial semata.

“Kita membutuhkan suara-suara moral yang tidak bisa dibelokkan oleh kepentingan dan insentif bisnis,” lanjut dia.

Dalam dokumen setebal hampir 43.000 kata tersebut, Paus Leo XIV juga memperingatkan risiko monopoli data oleh sektor swasta serta potensi normalisasi perang digital akibat perlombaan teknologi AI.

“Apa yang dibutuhkan adalah keterlibatan politik yang lebih aktif, yang mampu memperlambat segala sesuatu ketika semuanya bergerak terlalu cepat,” tulis Paus Leo XIV.