CEO Nvidia Sebut AI Buka Peluang Karier Generasi Muda

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Efisiensi akibat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi global, namun CEO Nvidia Jensen Huang justru menilai teknologi baru ini membuka peluang besar bagi karier generasi muda.

Pandangan tersebut disampaikan Huang saat memberikan pidato wisuda di Carnegie Mellon University pada pekan lalu, sebagaimana dilansir dari Tekno yang menghimpun Business Insider.

Miliarder teknologi tersebut menyatakan bahwa era sekarang merupakan waktu terbaik sepanjang sejarah bagi para lulusan baru untuk memulai langkah mereka.

"Sekarang adalah waktunya bagi Anda untuk mewujudkan impian Anda, dan momentumnya tidak mungkin lebih sempurna dari ini," ujar Huang di hadapan para wisudawan.

Menurut Huang, kehadiran AI berfungsi sebagai jembatan yang menutup kesenjangan teknologi sehingga semua orang kini memiliki akses untuk membangun hal bermanfaat.

Kondisi industri saat ini dinilai mirip dengan tahun 1993 saat ia mendirikan Nvidia tepat ketika revolusi internet dimulai, setelah sebelumnya ia lulus sarjana dari Oregon State University pada 1984 dan meraih gelar master dari Stanford University.

"AI kemungkinan besar tidak akan menggantikan (pekerjaan) Anda. Tetapi seseorang yang menggunakan AI lebih baik dari Anda, bisa jadi akan menggantikan Anda," pungkas Huang.

Optimisme Huang ini bertolak belakang dengan realitas pasar kerja di awal tahun 2026, di mana tingkat pengangguran lulusan baru mencatat rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir serta proses wawancara kerja menjadi lebih rumit.

Studi Pew Research Center menunjukkan sekitar separuh masyarakat Amerika Serikat lebih khawatir daripada bersemangat terhadap AI, bahkan banyak warga menolak pembangunan data center baru.

Sejumlah perusahaan besar seperti King, Meta, Cloudflare, hingga Snap melakukan PHK ribuan karyawan tahun ini dengan alasan peningkatan efisiensi berkat AI.

Kekhawatiran publik turut dipicu oleh pernyataan CEO Anthropic Dario Amodei yang memprediksi AI bisa memusnahkan 50 persen pekerjaan tingkat pemula pekerja kerah putih, serta klaim Elon Musk pada Februari lalu mengenai ancaman pemusnahan umat manusia.

Sentimen negatif tersebut dikhawatirkan memengaruhi pemilu paruh waktu di AS mendatang terkait perdebatan regulasi AI, yang kemudian direspons Huang dengan menyentil rekan sesama pemimpin perusahaan teknologi dalam podcast Memos to the President awal bulan ini.

"Komentar-komentar semacam itu (prediksi kiamat AI) sama sekali tidak membantu," tegas Huang dalam podcast tersebut.

Huang mengkritik para pemimpin perusahaan yang terjebak dalam rasa superioritas karena jabatan mereka.

"Komentar itu dilontarkan oleh orang-orang yang sama seperti saya, para CEO. Entah bagaimana, karena mereka menjadi CEO, Anda lantas mengadopsi God complex (merasa seperti Tuhan) dan, sebelum Anda menyadarinya, Anda merasa tahu segalanya," kata Huang.

Ia mengingatkan para pelaku industri untuk lebih bijak dalam memberikan pernyataan ke publik mengenai masa depan teknologi.

"Saya pikir kita harus lebih berhati-hati dan benar-benar membumikan diri kita untuk hanya berbicara berdasarkan fakta," tambah Huang.