Paus Leo XIV Kenang Jurnalis Korban Perang

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PEMIMPIN Gereja Katolik Paus Leo XIV memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan mengecam pelanggaran kebebasan pers di berbagai belahan dunia sekaligus mengenang jurnalis yang tewas saat meliput konflik.

Dalam doa mingguan Regina Coeli di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus Leo XIV menekankan pentingnya jurnalisme independen di tengah meningkatnya ancaman terhadap pekerja media. “Hari ini kita merayakan Hari Kebebasan Pers Sedunia. Sayangnya, hak ini sering dilanggar, kadang secara terang-terangan, kadang dalam bentuk yang lebih tersembunyi,” ujarnya seperti dilansir Al Jazeera.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang didukung UNESCO itu bertujuan menunjukkan dukungan terhadap organisasi media yang menghadapi tekanan atau sensor, sekaligus mengenang jurnalis yang gugur dalam tugas.

Paus Leo XIV juga mengajak publik untuk mengingat para jurnalis yang menjadi korban kekerasan, khususnya di wilayah konflik. “Kami mengenang banyak jurnalis dan reporter yang menjadi korban perang dan kekerasan,” katanya.

Sorotan terhadap keselamatan jurnalis menguat setelah laporan lembaga riset Watson Institute for International and Public Affairs menunjukkan bahwa perang di Gaza menjadi konflik paling mematikan bagi pekerja media yang pernah tercatat. Sejak Oktober 2023, sebanyak 232 jurnalis Palestina dilaporkan tewas dalam konflik tersebut.

Laporan itu juga menyebut jumlah jurnalis yang tewas di Gaza melampaui total korban dalam sejumlah konflik besar sebelumnya, termasuk Perang Dunia, Perang Vietnam, konflik di Yugoslavia, dan perang Amerika Serikat di Afganistan.

Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Paus Leo XIV menyebut jurnalisme sebagai pilar penting masyarakat dan demokrasi. Ia pun menegaskan bahwa informasi adalah kepentingan publik yang harus dijaga. Ia juga kerap menyerukan pembebasan jurnalis yang ditahan secara tidak adil.

Sementara itu, organisasi kebebasan pers Reporters Without Borders melaporkan bahwa tingkat kebebasan pers global kini berada pada titik terendah dalam 25 tahun terakhir. Untuk pertama kalinya sejak indeks dirilis pada 2002, lebih dari separuh negara di dunia masuk kategori “sulit” atau “sangat serius” dalam hal kebebasan pers, yang disebut sebagai tanda bahwa jurnalisme semakin dikriminalisasi secara global.