Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ditutup melemah ke level Rp 17.143 pada Rabu (15/4/2026) sore, yang diprediksi akan meningkatkan margin pendapatan para pengusaha di sektor ekspor kelapa sawit. Mata uang Garuda tercatat turun 16 poin atau sekitar 0,09 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di pasar spot.
Kondisi ini memberikan keuntungan bagi industri berbasis ekspor karena transaksi perdagangan internasional didominasi oleh mata uang dollar AS, sebagaimana dilansir dari Money. Sebaliknya, tekanan justru dirasakan oleh sektor impor dan industri yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan kinerja ekspor sawit nasional sepanjang 2025 tetap solid dengan volume mencapai 32.343.000 ton. Nilai ekspor tersebut setara dengan 35.868 juta dollar AS atau melonjak 9,51 persen secara tahunan dibandingkan periode 2024.
Secara nominal, total ekspor sawit selama tahun 2025 menyentuh angka Rp 590 triliun, atau mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 29 persen. Peningkatan pengiriman tercatat menuju sejumlah negara seperti Afrika, China, Malaysia, Bangladesh, dan Pakistan, meski terjadi penurunan permintaan dari India dan Amerika Serikat.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menjelaskan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menyebabkan kenaikan biaya logistik dan asuransi pengangkutan hingga 50 persen. Penutupan Selat Hormuz akibat perang telah mengerek harga minyak mentah dunia yang kemudian memicu penurunan permintaan minyak kelapa sawit mentah (CPO).
"Kita harus jujur juga, dengan kenaikan ini (biaya logistik) terjadi sedikit penurunan permintaan," kata Eddy Martono, Ketua GAPKI. Namun, harga CPO global diproyeksikan tetap menguat pada kuartal II 2026 seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat biodiesel lebih kompetitif dibanding bahan bakar fosil.
Berdasarkan laporan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), harga rata-rata CPO global pada Maret 2026 berada di angka 1.165 dollar AS per ton. Harga ini diperkirakan terus merangkak naik hingga menyentuh 1.783 dollar AS per ton pada Juni 2026 mendatang.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah menciptakan selisih kurs yang menguntungkan bagi komoditas ekspor seperti timah, nikel, dan CPO. Pendapatan berbasis dollar AS yang lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah akan memperkuat kinerja keuangan perusahaan dalam negeri baik swasta maupun BUMN.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·