Jakarta (ANTARA) - Suatu pagi di sebuah sekolah menengah pertama, seorang guru menemukan bahwa tugas kelompok yang diberikan sehari sebelumnya ternyata dikerjakan hanya oleh satu siswa.
Ketika ditanya, anggota kelompok lainnya dengan jujur mengatakan, “Kami tidak mengerjakan, karena tahu tetap akan dapat nilai.”
Guru itu terdiam. Dia merenung, fenomena di hadapannya bukan sekadar persoalan tugas yang tidak selesai, melainkan cermin dari sesuatu yang lebih dalam: hilangnya rasa tanggung jawab yang seharusnya mulai tumbuh sejak dini.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Data justru menunjukkan bahwa persoalan pendidikan kita tidak hanya menyangkut kemampuan akademik, tetapi juga berkaitan dengan karakter dan tanggung jawab peserta didik.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia berada di kisaran skor 359–379, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di atas 470. Lebih dari 60 persen siswa bahkan belum mencapai tingkat kompetensi minimum dalam membaca dan memahami teks secara mandiri.
Dalam bidang numerasi, kondisi ini bahkan lebih mengkhawatirkan: sekitar 73 persen siswa Indonesia berada di level dasar atau di bawahnya, yang berarti belum mampu menyelesaikan persoalan matematika sederhana dalam konteks kehidupan nyata.
Memang, Kementerian Pendidikan mencatat adanya kenaikan peringkat Indonesia dalam PISA 2022 sebesar 5–6 posisi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun kenaikan peringkat ini tidak serta-merta menunjukkan peningkatan kualitas yang signifikan, karena skor rata-rata justru masih turun.
Data ini memberi pesan penting: persoalan pendidikan kita bukan sekadar pada capaian akademik, tetapi juga pada kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap proses belajar itu sendiri.
Dalam perspektif Zygmunt Bauman, kondisi ini dapat dipahami sebagai bagian dari dunia modern yang menuntut individu untuk mengambil keputusan secara mandiri. Dalam dunia yang penuh pilihan dan tanpa kepastian tunggal, tanggung jawab tidak bisa lagi ditunda atau diserahkan pada sistem. Ia harus dibentuk sejak dini.
Gagasan ini sejatinya sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar memberi pengetahuan, melainkan “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Dalam pandangan Ki Hajar, pendidikan bukanlah proses pemaksaan dari luar, melainkan proses pembimbingan dari dalam. Karena itu, tanggung jawab tidak bisa ditanamkan hanya melalui aturan, tetapi harus tumbuh melalui kesadaran.
Ki Hajar juga mengingatkan melalui prinsipnya yang terkenal: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan, dan di belakang memberi dorongan. Prinsip ini menegaskan bahwa pembinaan tanggung jawab harus melalui keteladanan, pendampingan, dan kepercayaan, bukan sekadar pengawasan.
Lebih dari sekadar disiplin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·