Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memperingatkan bahwa konflik bersenjata di Timur Tengah mengancam stabilitas kawasan serta mengganggu pasokan energi dan ekonomi global pada Selasa, 21 April 2026.
Eskalasi ini dipicu oleh ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berdampak pada kenaikan harga minyak Brent dari 78 dolar AS pada Januari menjadi 92 dolar AS per barel di akhir April 2026 menurut laporan Media Kampung.
Arab Saudi kini berupaya menjalin koordinasi dengan China guna menjaga gencatan senjata dan menjamin keselamatan navigasi di Selat Hormuz setelah terjadi gangguan aliran minyak sebesar 60.000 barel per hari pada Maret 2026.
"Arab Saudi berkomitmen untuk menyelesaikan sengketa dan perbedaan pendapat melalui dialog, serta berharap dapat mencegah terjadinya eskalasi lebih lanjut," kata Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi dilansir dari Suara.com.
Pemimpin Saudi tersebut menilai China sebagai mitra yang konsisten mendukung semangat kerja sama dan dialog antarnegara di wilayah Timur Tengah.
"Arab Saudi siap memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan China guna menjaga gencatan senjata, mencegah berulangnya permusuhan, menjamin keselamatan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, serta bekerja sama untuk menemukan jalan menuju perdamaian dan stabilitas yang langgeng di kawasan tersebut," ujarnya menambahkan.
Di tengah upaya diplomasi Saudi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras mengenai potensi meledaknya konflik berskala lebih besar jika gencatan senjata dengan Iran berakhir.
"Banyak bom akan mulai meledak," kata Trump, Presiden Amerika Serikat kepada PBS News pada Senin (20/4/2026).
Pemerintah Iran justru bersikap dingin terhadap rencana kelanjutan perundingan di Islamabad, Pakistan, dan menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan eksternal apa pun.
“Republik Islam Iran tidak menerima batas waktu atau ultimatum apa pun dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya,” kata Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, dalam laporan iNews.id menegaskan bahwa kebijakan luar negeri negaranya tetap mandiri dan tidak akan disusun berdasarkan kepentingan pihak lain.
Ketegangan semakin memuncak setelah Amerika Serikat melakukan blokade di Selat Hormuz yang menyebabkan sekitar 2.000 kapal tertahan dan ribuan lainnya menghadapi ketidakpastian di jalur pelayaran global tersebut.
| Masuk ke Teluk | 14 |
| Keluar dari Selat | 7 |
| Berada di Area Selat | 13 |
| Tertahan di Sisi Teluk | 2000 |
| Menunggu Giliran Melintas | 40 |
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·