Pemerintah Antisipasi Dampak Karhutla dan El Nino Godzilla hingga Oktober

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat fenomena El Nino ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga Oktober 2026. Mitigasi dilakukan untuk mengantisipasi krisis air bersih dan kekeringan panjang pada Senin, 27 April 2026.

Anggota Komisi VIII DPR RI Muhamad Abdul Azis Sefudin mengingatkan pemerintah pusat dan daerah agar tidak terkesan gugup dalam menghadapi ancaman bencana kemarau panjang ini. Penegasan tersebut disampaikan Azis saat melakukan Kunjungan Kerja Reses Komisi VIII DPR RI di Kantor Gubernur Sumatra Utara, Medan, pada Minggu, 26 April 2026.

"Jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sama. Ketika BMKG sudah memberikan imbauan mengenai curah hujan tinggi maupun ancaman 'El Nino Godzilla', kita harus siap. Mencegah jauh lebih baik dan lebih murah daripada mengobati atau menangani dampak yang sudah terjadi," tegas Azis dikutip dari keterangan tertulis oleh metrotvnews.com.

Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut juga menyoroti statistik kebencanaan nasional yang menyentuh angka hampir 4.000 kejadian per tahun. Ia mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menggeser fokus kerja dari penanganan pascabencana menuju penguatan sosialisasi dan pencegahan dini.

"Kapasitas BNPB saat ini lebih banyak tersedot untuk penanganan. Kita perlu mendorong kebijakan nasional yang mampu memetakan daerah rawan bencana secara presisi sejak dini. Selain itu, pengawasan terhadap izin-izin lahan dan hutan harus diperketat untuk mencegah longsor dan banjir bandang yang berdampak sistemik pada pembangunan nasional," imbuh Azis.

Legislator asal Daerah Pemilihan Jabar III ini juga menaruh perhatian pada keselamatan anak-anak selama masa bencana berlangsung. Menurut Azis, tingkat korban jiwa pada kelompok anak cenderung tinggi karena keterbatasan pengetahuan mengenai cara melakukan penyelamatan diri saat situasi darurat.

"Secara fisik, daya tahan anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Mereka seringkali tidak tahu harus lari ke mana saat terjadi tsunami atau gempa. Karena itu, saya pribadi mendorong pemerintah untuk serius memasukkan kurikulum kebencanaan di sekolah-sekolah, seperti yang diterapkan di Jepang," ujar Azis.

Penerapan kurikulum kebencanaan dinilai penting agar generasi muda memiliki naluri bertahan hidup sesuai dengan karakteristik geografis tempat tinggal mereka. Hal ini dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk membentuk masyarakat yang sadar akan risiko bencana di wilayah Ring of Fire.

"Menanamkan budaya sadar bencana sejak dini tidak hanya menyelamatkan nyawa mereka hari ini, tetapi juga membentuk generasi masa depan yang lebih bijak dalam memilih tempat tinggal yang layak dan aman di masa depan," tutup Azis.

Sementara itu, Pemerintah Kota Pekanbaru mulai mengeluarkan larangan keras bagi warga untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Langkah preventif ini diambil seiring dengan meningkatnya suhu udara yang berpotensi memicu titik api pada lahan-lahan kosong.

"Selama tujuh bulan ke depan mungkin kita akan dihadapkan dengan musim panas. Maka dari itu, kita berharap kepada masyarakat, jangan bakar sampah di sembarang tempat, dan jangan bakar lahan," ujar Markarius Anwar, Wakil Wali Kota Pekanbaru dilansir dari epaper.mediaindonesia.com.

Pemerintah daerah memperkirakan risiko karhutla akan meningkat signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Seluruh elemen masyarakat diminta waspada terhadap risiko krisis air bersih dan menjaga kondisi lingkungan agar tetap aman dari bahaya api selama masa El Nino berlangsung.