Sekitar 330.000 importir di Amerika Serikat menuntut pengembalian dana bea masuk senilai US$ 166 miliar atau setara Rp 2.851 triliun setelah kebijakan tarif era Donald Trump dibatalkan. Berdasarkan laporan Detik Finance pada Sabtu (18/4/2026), ribuan perusahaan tersebut secara serentak mengajukan refund atas pungutan yang sebelumnya dinilai sah oleh pemerintah.
Data dari Bea dan Cukai AS menunjukkan bahwa hingga 9 April, sebanyak 56.497 importir telah melengkapi prosedur administrasi untuk mencairkan dana sebesar US$ 127 miliar. Namun, banyak pelaku usaha mengeluhkan rumitnya proses pengajuan dalam sistem yang disediakan pemerintah tersebut.
CEO Huntar Co., Jason Cheung, mengungkapkan bahwa perusahaannya yang memproduksi mainan harus melakukan lima kali percobaan hanya untuk mendaftarkan data karena kendala teknis dan birokrasi yang ketat.
"Sepertinya pemerintah mencoba mempersulitnya. Pendaftaran memerlukan pengisian informasi rekening bank meskipun pemerintah sudah memilikinya untuk pembayaran bea cukai. Dan nama perusahaan harus tepat. Butuh lima kali percobaan sebelum kami dapat terdaftar karena perbedaan kecil seperti 'perusahaan' versus 'co'," kata Cheung.
Kesulitan serupa dirasakan oleh para pemimpin industri lain yang menganggap sistem Consolidated Administration and Processing of Entries (CAPE) belum optimal. Jay Foreman, CEO produsen mainan Basic Fun, menyatakan kekhawatirannya terhadap efektivitas sistem refund yang melibatkan volume perusahaan sangat besar ini.
"Khawatir tentang apa yang mungkin mereka lakukan untuk mengacaukan semuanya," ucap Foreman.
Langkah pengembalian dana ini merupakan konsekuensi dari keputusan Mahkamah Agung AS pada Februari lalu yang resmi membatalkan kebijakan tarif impor Trump. Sebelumnya, tarif yang bervariasi bagi setiap negara mitra dagang telah menimbulkan beban biaya tinggi bagi para pengusaha selama bertahun-tahun.
Menanggapi keluhan tersebut, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menyatakan telah merampungkan pengembangan fase awal sistem CAPE pada Selasa pekan lalu. Sistem ini diharapkan mampu memproses klaim ratusan ribu perusahaan yang terdampak oleh perubahan kebijakan perdagangan internasional tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·