Pemerintah Pacu Pengembangan 11 Blok Migas Strategis di Papua

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemerintah menetapkan Papua sebagai kawasan strategis hulu minyak dan gas bumi dengan mengelola 11 wilayah kerja hingga Mei 2026. Langkah ini diambil guna menjaga ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan potensi produksi minyak sebesar 14.000 barrel per hari dan gas bumi mencapai 2.000 mmscfd.

Sebelas wilayah kerja tersebut mencakup fase eksplorasi hingga produksi yang tersebar di berbagai lokasi strategis. Berdasarkan data yang dilansir dari Money, beberapa perusahaan yang terlibat dalam operasional di wilayah produksi meliputi BP Berau, Petrogas Besin, Petrogas Island Limited, serta PT Pertamina EP.

Selain area produksi, terdapat pengembangan oleh Genting Oil Kasuri serta kegiatan eksplorasi di blok Bobara, Semai Tiga, dan Gaya. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa kemajuan daerah penghasil migas ini memerlukan sinergi kuat antar-pemangku kepentingan.

"Kunci keberhasilan pembangunan itu berada di kekuatan sumber daya manusia di daerah maupun di pusat. Kolaborasi ini baik sekali dan bisa dijadikan benchmark untuk ke depannya dengan provinsi-provinsi yang lain," ujar Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM.

Penegasan mengenai kualitas manusia sebagai motor penggerak pembangunan Papua disampaikan Laode dalam pertemuan eksekutif di Jakarta, Jumat (8/5/2026). Ia menilai kekayaan alam tidak akan berarti banyak tanpa didukung kapasitas individu yang mumpuni.

"Masa depan Papua tidak hanya digantungkan oleh besarnya sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya," lanjut Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM.

Pemerintah juga memfasilitasi peran daerah melalui skema Dana Bagi Hasil (DBH) dan Participating Interest (PI) sebesar 10 persen. Mekanisme ini dirancang agar pemerintah daerah dapat mengelola pendapatan secara mandiri untuk kebutuhan masyarakat lokal.

"Melalui mekanisme DBH dan PI 10 persen, Pemerintah daerah juga diharapkan dapat menginvestasikan kembali pendapatan migas tersebut pada sektor pendidikan dan keterampilan masyarakat lokal," kata Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM.

Laode menambahkan bahwa optimalisasi sektor ini akan memberikan dampak berganda bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia. Hal ini mencakup pembukaan lapangan kerja baru dan peningkatan keahlian tenaga kerja setempat.

"Potensi ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional tetapi juga tentu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia lokal," sambung Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM.

Data ketenagakerjaan menunjukkan tren positif dengan penyerapan ribuan pekerja asal Papua, terutama pada proyek UCC Ubadari milik BP Tangguh. Dari total 4.018 personel, sebanyak 1.330 orang atau 33 persen merupakan putra daerah, termasuk pekerja dari wilayah Bintuni dan Fakfak.

"Kami berharap sinergi antara Pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi dan dunia usaha dapat memastikan pembangunan sektor energi mampu menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan," ujar Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM.

Kementerian ESDM turut membuka peluang kerja sama pendidikan vokasi melalui PEM Akamigas dan institusi terkait untuk menyiapkan generasi muda sebagai aktor utama industri. Tujuan akhirnya adalah memastikan kemandirian masyarakat di tanah kelahiran mereka sendiri.

"Generasi muda Papua harus mampu menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri," tambah Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM.

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan pencapaian lifting minyak nasional tahun 2025 yang melampaui target APBN untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun terakhir. Realisasi lifting tercatat mencapai 605.300 barrel per hari (bph), melampaui target awal sebesar 605.000 bph.

"Target kita di APBN, lifting minyak itu 605 ribu barrel per hari. Alhamdulillah, target kita tercapai. Realisasi lifting mencapai 605,3 ribu bph atau setara 105 persen dari target," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Bahlil menyebut capaian ini sebagai titik balik signifikan bagi sektor energi Indonesia yang menyumbang PNBP sebesar Rp 105,4 triliun. Selama satu dekade ke belakang, realisasi lifting minyak selalu berada di bawah angka yang direncanakan pemerintah.

"Kalau kita melihat target APBN dalam 10 tahun terakhir, lifting minyak tidak pernah tercapai," kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Pemerintah kini menargetkan peningkatan produksi hingga 1 juta barrel per hari pada 2030 mendatang. Strategi yang disiapkan meliputi penawaran 61 wilayah kerja baru, pemanfaatan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), serta penyederhanaan birokrasi perizinan bagi kontraktor.