Pemerintah Siapkan Konversi LPG ke CNG Guna Hemat Devisa

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menguji coba penggunaan gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) dalam tabung 3 kg untuk menggantikan liquified petroleum gas (LPG) pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini bertujuan menekan ketergantungan impor dan menghemat devisa negara.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, rencana masifikasi bahan bakar ini dinilai memiliki tantangan teknis lebih besar dibandingkan program konversi minyak tanah ke LPG tahun 2007. Perbedaan tekanan gas yang signifikan menjadi salah satu poin krusial dalam aspek keamanan distribusi bagi masyarakat luas.

Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal menjelaskan bahwa produk CNG memiliki tekanan mencapai 200 hingga 250 bar atau setara 3.600 psi. Angka ini jauh melampaui tekanan LPG yang hanya berada di kisaran 5 hingga 10 bar.

“Saya sangat tidak menganjurkan ya. Itulah kenapa waktu kita konversi dari minyak tanah ke gas itu yang dipilih adalah LPG. Ada alasannya. Satu alasan utamanya yang paling kritikal adalah masalah safety. Ini bayangkan kita masyarakat ya, masyarakat menggunakan CNG,” kata Moshe.

Risiko kebocoran dan ledakan menjadi perhatian utama Aspermigas mengingat karakteristik CNG yang berisiko tinggi. Moshe menekankan bahwa sejauh ini penggunaan CNG lebih lazim digunakan pada sektor industri daripada rumah tangga.

“Nah kita banyak sekali dengar masalah LPG yang meledak, yang leaking, dan lain sebagainya. Jadi kalau kita di sektor migas tuh enggak pernah ada yang bilang CNG itu lebih aman daripada LPG, itu enggak ada. Kenapa? Karena kenyataannya memang berisiko tinggi makanya yang memakai CNG itu adalah industri,” tegas Moshe.

Ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi berpendapat bahwa pengembangan tabung CNG 3 kg harus mengutamakan standar keamanan kecelakaan nihil. Dia memproyeksikan durasi persiapan hingga satu tahun untuk memastikan keamanan konsumsi di tingkat rumah tangga.

“Harus menjamin adanya suatu keamanan; misalnya dengan standar zero accident. Barangkali kalau [uji coba] 3 bulan itu terlalu cepat. Ya mungkin 6 bulan sampai setahun sampai menghasilkan CNG yang itu benar-benar aman untuk dikonsumsi khususnya untuk di rumah tangga,” kata Fahmy.

Meski demikian, Fahmy menilai sisi praktis penggunaan CNG lebih unggul karena tidak memerlukan penggantian kompor. Hal ini berbeda dengan peralihan dari minyak tanah dahulu yang menuntut perubahan total pada alat memasak masyarakat.

“Karena minyak tanah itu kompornya beda. Kemudian juga yang digunakan itu beda antara minyak tanah dengan gas itu kan beda sekali. Akan tetapi, kalau LPG dengan CNG dalam tabung itu ya mirip, sangat mirip,” ungkap Fahmy.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa pemerintah kini sedang mengkaji penggunaan tabung tipe 4 berbahan polimer dan carbon fiber. Pihaknya mengejar target penyelesaian pengembangan tabung tersebut dalam waktu tiga bulan.

“Ini bukan di tahap kajian ya, ini sudah di tahap implementasi. Mengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif,” kata Laode.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim substitusi ini berpotensi menghemat devisa hingga Rp137 triliun per tahun. Pemerintah meyakini harga CNG akan lebih murah sehingga beban subsidi energi dapat ditekan secara signifikan.