Pemerintah Indonesia menyediakan layanan konsumsi khusus berupa paket makanan siap santap bagi jemaah haji menjelang puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), sebagaimana dilansir dari Cahaya pada Kamis (21/5/2026).
Penyediaan makanan siap santap atau ready to eat (RTE) dengan cita rasa khas Nusantara ini bertujuan mendukung kebutuhan konsumsi jemaah saat operasional dapur katering dihentikan sementara.
Wakil Koordinator Bidang Ekosistem Ekonomi Haji PPIH Arab Saudi Tri Hidayatno menjelaskan bahwa suplier mulai mendistribusikan enam paket makanan ini secara bertahap ke dapur sejak 10 Mei 2026.
"Setiap jemaah haji akan mendapatkan enam paket makanan siap santap dengan menu yang berbeda-beda," kata Tri Hidayatno kepada tim Media Center Haji (MCH), Kamis (21/5/2026).
Layanan katering utama akan berhenti beroperasi sementara pada 7, 8, dan 13 Dzulhijjah 1447 H, sehingga jemaah dapat mengonsumsi makanan kemasan tersebut di hotel pada 24, 25, dan 30 Mei 2026.
Pengadaan total 1.232.520 paket makanan yang berisi menu seperti kari ayam, semur ayam, dan rendang daging ini dilakukan melalui kerja sama syarikah Arab Saudi dengan PT Halalan Thayyiban dan Family Food.
Tri mengimbau agar paket makanan ini dikonsumsi di hotel tempat jemaah menginap dan tidak perlu dibawa hingga ke lokasi pelaksanaan puncak ibadah haji.
"(Makanan siap saji) tidak perlu dibawa sampai di Armuzna karena memberatkan. Selama di sana, jemaah juga akan mendapatkan makanan dari pihak syarikah. Jadi lebih baik disimpan di hotel saja," ujar Tri.
Hidangan ini diproduksi menggunakan teknologi retort dengan pemanasan hingga 121 derajat Celsius, sehingga tetap aman disimpan pada suhu kamar hotel yang mencapai 47 derajat Celsius tanpa bantuan lemari pendingin.
"Tidak perlu dimasukkan ke kulkas. Disimpan di kamar saja cukup karena makanan ini sudah dipanaskan dengan teknologi retort sampai 121 derajat Celsius," jelas Tri.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj RI Jaenal Effendi memaparkan bahwa pihak pemerintah menyiapkan sekitar 3,08 juta porsi makanan siap santap untuk mendukung fase Armuzna.
“Ini saking senangnya, kadang para jamaah membawa makanan siap santap saat puncak haji sebagai oleh-oleh pulang ke Indonesia,” ujar Jaenal di Makkah, Selasa (19/5/2026).
Makanan kemasan tersebut memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 50 persen dengan daya simpan yang dinilai sangat aman.
“Daya tahannya ini 18 bulan. Kemarin juga sudah kita uji lagi di laboratorium dan masih sangat layak untuk dikonsumsi,” katanya.
Kemasan makanan ini juga didesain agar praktis dan dapat langsung digunakan sebagai wadah makan oleh para jemaah tanpa harus melalui proses pemanasan terlebih dahulu.
“Ini sudah bisa langsung dibuka dan dimakan. Tidak perlu dipanaskan,” ujarnya.
Petugas haji dijadwalkan akan memberikan edukasi dan bimbingan langsung bagi jemaah yang belum terbiasa mengonsumsi jenis makanan siap santap tersebut.
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·