Pemerintah Siapkan Penerbitan Panda Bonds Mitigasi Risiko Likuiditas

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan berencana menerbitkan surat utang global dalam mata uang Renminbi atau Panda Bond pada semester II 2026 untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan global. Langkah strategis ini bertujuan menekan biaya utang dan memperluas basis investor di pasar China.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa kebijakan ini selaras dengan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk mencari alternatif pembiayaan di luar pasar tradisional. Dilansir dari Money, rencana tersebut telah mendapat respons positif dari otoritas keuangan China.

"Jadi gini, salah satu perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto adalah melakukan diversifikasi sumber pembiayaan global," kata Purbaya, Menteri Keuangan.

Pemerintah berupaya mengoptimalkan biaya modal mengingat suku bunga di pasar China dinilai lebih kompetitif dibandingkan dengan instrumen berbasis dollar AS. Koordinasi intensif terus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR).

"Antara lain kita bilang juga kita ingin menerbitkan Panda Bond di sana, dia amat setuju dan hubungannya di China itu murah, cuma 2,3 persen, jadi kita bisa menekan cost of capital kita," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menilai penerbitan obligasi mata uang asing ini membawa risiko nilai tukar yang harus diwaspadai pemerintah. Penegasan tersebut disampaikan pada paparan Bank Mandiri Macro and Market Brief Q2-2026, Senin (11/5/2026).

"Risikonya tentu, kalau kita selalu mau menerbitkan dalam bentuk mata uang di luar domestik ya ada risiko current series," ujar Handy, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas.

Meski terdapat risiko kurs, Handy menyebut hubungan dagang bilateral yang kuat antara Indonesia dan China dapat menjadi mekanisme lindung nilai alami. Hal ini diharapkan mampu meminimalisir dampak fluktuasi mata uang terhadap beban utang negara.

"Tapi kalau kita melihat Indonesia cukup banyak counterpart dengan China, mudah-mudahan ada natural hedging yang ini bisa memitigasi risiko tersebut," imbuh Handy, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas.

Kebutuhan penerbitan obligasi yang besar pada tahun 2026 mendorong pemerintah untuk lebih aktif di pasar global guna menghindari perebutan likuiditas dengan sektor swasta di dalam negeri. Diversifikasi instrumen dipandang sebagai solusi efektif untuk menjaga stabilitas pasar domestik.

"Tahun 2026 ini memang challenge buat pemerintah untuk issue obligasi secara close cukup besar. Jadi salah satu cara untuk memitigasi risiko crowding out adalah mencoba menerbitkan porsi global bonds yang lebih besar," jelas Handy, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas.

Perluasan instrumen pembiayaan ke mata uang Renminbi melengkapi koleksi obligasi global Indonesia yang selama ini bertumpu pada dollar AS, euro, dan yen. Tren penggunaan Panda Bond juga tercatat meningkat secara global karena menawarkan imbal hasil yang lebih rendah.

"Kalau dulu selalu bergantung dollar AS, euro, Japanese yen. Sekarang kita sudah punya Australia, panda, dimsum. Ini salah satu strategi diversifikasi," kata Handy, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas.

Perbandingan imbal hasil menunjukkan bahwa instrumen ini jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan surat utang terbitan Amerika Serikat. Banyak negara mulai beralih memanfaatkan kondisi pasar China untuk mendapatkan biaya pendanaan yang efisien.

"Kalau kita lihat historicalnya, sebenarnya nggak cuma Indonesia yang memanfaatkan kondisi ini. Kita lihat beberapa negara juga melakukan ini dan trennya memang terus mengalami peningkatan issuance dari Panda Bonds ini. Karena kalau kita lihat secara yield, memang jauh lebih murah dibandingkan dengan US Treasury yang saat ini kalau kita lihat perbandingan yieldnya," tutur Handy, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas.