Pemerintah Indonesia menyiapkan skema relokasi bagi komunitas nelayan terdampak proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall demi memitigasi ancaman banjir rob di Pantai Utara (Pantura) Jawa. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengoordinasikan percepatan perlindungan pesisir ini dalam pertemuan di Jakarta pada Senin (4/5/2026).
Kawasan Jakarta dan Semarang menjadi prioritas karena mengalami penurunan muka tanah hingga 20 sentimeter per tahun yang diperparah oleh kenaikan permukaan laut. Berdasarkan data yang dihimpun, proyek strategis nasional ini diperkirakan membentang sepanjang 500 kilometer dari Banten hingga Gresik untuk melindungi pusat pertumbuhan ekonomi.
"Di saat yang bersamaan bisa dikatakan ini sebagai twin pressure tekanan ganda terjadi kenaikan permukaan air laut," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Langkah intervensi fisik tersebut dinilai mendesak agar krisis lingkungan di wilayah pesisir tidak dianggap sebagai kondisi normal oleh penduduk setempat. Agus menekankan pentingnya integrasi antara pembangunan infrastruktur adaptif dengan upaya pelestarian lingkungan.
"Dan ini semua jangan sampai benar-benar menjadi norma yang kemudian kita anggap sebagai takdir kita," katanya.
Selain pembangunan fisik, aspek sosiologis menjadi perhatian utama melalui program Kampung Nelayan Merah Putih yang menjanjikan hunian baru tanpa memutus mata pencaharian warga. Pemerintah berupaya memastikan transisi ini tetap memberikan ruang bagi keberlangsungan ekonomi komunitas pesisir.
"Tetapi kita harus melawan dalam cara petik dengan upaya, dengan ikhtiar, sekuat tenaga, melalui pendekatan infrastruktur maupun pendekatan sosiologis dan juga ekologis yang tepat sasaran," tuturnya.
Skema relokasi ini juga dirancang untuk menciptakan diversifikasi lapangan kerja bagi generasi muda agar tidak hanya bergantung pada sektor perikanan tangkap. Pemerintah memproyeksikan peningkatan nilai tukar nelayan melalui pembukaan jalur ekonomi baru di lokasi pemukiman yang lebih aman.
"Relokasi ini tentunya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraannya, bukan untuk menggusur tanpa tujuan, apalagi membuatnya lebih sengsara," ujar Agus Harimurti Yudhoyono.
Estimasi total kebutuhan anggaran untuk pembangunan raksasa ini mencapai US$ 80 miliar atau setara Rp 1.298 triliun dengan masa pengerjaan hingga 20 tahun. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, titik awal pembangunan difokuskan di Teluk Jakarta dengan pendanaan kolektif.
"With ini kita berharap kesejahteraan nelayan semakin baik, nilai tukar nelayan meningkat, and semakin banyak masyarakat, termasuk anak-anak muda, terserap ke lapangan pekerjaan di luar profesi nelayan," katanya.
Guna memenuhi kebutuhan dana yang masif, pemerintah berencana menggandeng sektor swasta melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (PPP). Penggunaan jasa konsultan global juga dilakukan untuk memastikan teknis pengerjaan proyek tetap akurat dan efisien.
"Anggaran yang besar tentu tidak semua menggunakan APBN atau APBD. Kita harus hadir dengan berbagai skema pembiayaan yang kreatif dan inovatif," kata Agus.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·