Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyebutkan penanganan ikan sapu-sapu di sungai-sungai di Jakarta tidak bisa hanya dilakukan sendiri tanpa dukungan daerah penyangga, khususnya wilayah hulu sungai di Jawa Barat.
"Upaya pengendalian ikan invasif tersebut dinilai harus dilakukan secara terintegrasi lintas daerah agar hasilnya efektif dan berkelanjutan," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok dalam webinar bertema "Dari Sungai ke Literasi" yang membahas fenomena ikan sapu-sapu di perairan Jakarta, di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, persoalan ikan sapu-sapu di Jakarta berkaitan erat dengan kondisi wilayah hulu sungai yang berada di luar wilayah ibu kota.
"Kalau hanya dikendalikan di Jakarta, sementara di daerah hulu masih ada, saya rasa tidak efektif," ujar Hasudungan.
Dia mengatakan sebanyak 13 sungai yang melintasi Jakarta memiliki hulu di wilayah Jawa Barat. Oleh karena itu, pengendalian ikan sapu-sapu tidak dapat dilakukan secara parsial atau hanya di wilayah hilir, tetapi juga membutuhkan kerja sama lintas daerah dan lintas pemangku kepentingan.
Baca juga: KPKP DKI soroti temuan kandungan bakteri berbahaya dalam ikan sapu-sapu
Hasudungan menjelaskan Dinas KPKP DKI selama ini telah menjalankan berbagai strategi untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang dinilai mengganggu keseimbangan ekosistem sungai.
Strategi tersebut meliputi penguatan regulasi, edukasi kepada masyarakat, serta kolaborasi dengan sejumlah lembaga.
Selain menggencarkan penangkapan ikan sapu-sapu di sejumlah sungai dan waduk, Dinas KPKP DKI juga menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna mengembangkan pemanfaatan hasil tangkapan ikan tersebut menjadi produk non-pangan.
Beberapa bentuk pemanfaatan yang saat ini sedang dikaji, antara lain pengolahan ikan sapu-sapu menjadi pupuk organik, bahan budidaya maggot, serta arang yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mereduksi pencemaran lingkungan.
"Kami berkolaborasi dengan BRIN untuk mengkaji hasil tangkapan ikan sapu-sapu agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan non-pangan," ucap Hasudungan.
Dia menilai pendekatan hilirisasi sangat penting agar penanganan ikan sapu-sapu tidak berhenti pada proses penangkapan dan pemusnahan semata. Dengan adanya nilai manfaat dari hasil tangkapan, upaya pengendalian diharapkan dapat berjalan lebih konsisten dan melibatkan lebih banyak pihak.
Baca juga: Dinas KPKP DKI targetkan populasi ikan sapu-sapu turun jadi 20 persen
Lebih lanjut, dia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan sungai. Dia memandang persoalan kerusakan lingkungan tidak lepas dari perilaku manusia sehingga solusi jangka panjang harus dibangun melalui kesadaran bersama.
"Ini bukan hanya kerja pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat dan stakeholder (pemangku kepentingan) terkait," tutur Hasudungan.
Dia pun berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem sungai terus meningkat demi menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
Seperti diketahui, keberadaan ikan sapu-sapu selama ini menjadi perhatian karena termasuk spesies invasif yang dapat mengganggu habitat ikan lokal dan keseimbangan ekosistem perairan. Oleh sebab itu, sinergi antarwilayah dinilai menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran ikan tersebut di aliran sungai yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.
Sebelumnya, Dinas KPKP DKI mencatat sebanyak 68.880 ekor ikan sapu-sapu ditangkap dalam kegiatan serentak di lima wilayah yang dilaksanakan pada 17 April 2026. Total hasil tangkapan ikan sapu-sapu itu mencapai 6.979,5 kilogram (kg) atau setara 6,98 ton.
Baca juga: BRIN pastikan metode penguburan ikan sapu-sapu tidak mencemari tanah
Baca juga: Terlanjur makan siomai ikan sapu-sapu? Ini kata peneliti BRIN
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·