Puluhan pemukim Israel dilaporkan menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis (14/5/2026) pagi waktu setempat dengan pengawalan ketat pasukan keamanan. Aksi yang berlangsung di tengah ketegangan wilayah tersebut melibatkan pelaksanaan ritual keagamaan secara terbuka di halaman situs suci umat Islam tersebut.
Insiden ini menambah daftar panjang aksi provokatif di area sensitif tersebut sebagaimana dilansir dari Detikcom. Berdasarkan laporan kantor berita Palestina, WAFA, para pemukim memasuki area kompleks secara berkelompok di bawah perlindungan aparat kepolisian Tel Aviv.
Laporan tersebut mengonfirmasi bahwa para pemukim secara terang-terangan melakukan ritual Talmud selama berada di dalam halaman kompleks. Tindakan ini memicu reaksi keras karena dianggap melanggar aturan status quo yang selama ini berlaku di wilayah Yerusalem Timur.
Sehari sebelumnya, tepatnya pada Rabu (13/5), Menteri Urusan Negev dan Galilea Israel, Yitzhak Wasserlauf, juga terpantau mendatangi kompleks tersebut. Kedatangan menteri dari partai sayap kanan Otzma Yehudit ini dilakukan menjelang peringatan pendudukan Israel atas Yerusalem.
Wasserlauf yang merupakan rekan politik Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, sebelumnya juga tercatat pernah memaksa masuk ke lokasi yang sama. Kelompok sayap kanan Israel saat ini tengah memobilisasi pendukungnya untuk melakukan pawai bendera besar-besaran pada Kamis (14/5) malam.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mencatat intensitas pergerakan pemukim di situs tersebut cukup tinggi sepanjang bulan April lalu. Otoritas Palestina melaporkan bahwa para pemukim Israel setidaknya telah menyatroni kompleks suci itu sebanyak 30 kali dalam periode satu bulan tersebut.
Secara historis, Masjid Al-Aqsa merupakan tempat tersuci ketiga bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, umat Yahudi mengklaim lokasi yang mereka sebut sebagai Temple Mount itu adalah tempat berdirinya dua kuil kuno Yahudi di masa silam.
Meskipun Israel mengizinkan kunjungan warga Yahudi sejak 2003, aturan status quo melarang non-Muslim untuk melakukan ibadah atau ritual di sana. Warga Palestina memandang aksi-aksi terbaru ini sebagai upaya sistematis untuk mengubah identitas Arab dan Islam di Yerusalem Timur sesuai resolusi internasional.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·