Penataan Pantai Kuta Dikebut, Wagub Bali Yakin Wisata Akan Kembali Ramai

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pantai Kuta di Bali. Foto: Shutterstock

Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong penataan kawasan Pantai Kuta di tengah isu abrasi dan menurunnya kunjungan wisatawan. Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menegaskan bahwa proyek penataan sebenarnya sudah dirancang sejak dirinya menjabat sebagai Bupati Badung.

Ia menjelaskan bahwa perencanaan kawasan Kuta, termasuk Legian dan Seminyak, telah melalui kajian matang, seperti feasibility study dan detail engineering design (DED). Program tersebut kini menjadi bagian dari proyek pemerintah pusat.

"Penataan Kuta itu sudah kami siapkan sejak lama, mulai dari studi kelayakan sampai DED. Sekarang dilanjutkan sebagai program pusat," ujar Giri Prasta, kepada kumparan.

Wisatawan menikmati suasana saat berkunjung di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (25/9/2023). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto

Salah satu fokus utama yang kini tengah dilakukan Pemprov adalah penanganan abrasi yang terjadi di Pantai Kuta. Menurut Giri Prasta, fenomena ini dipengaruhi oleh kondisi arus laut yang kompleks.

"Pantai Kuta ini punya lima arus laut yang sulit diprediksi. Tapi kami sudah siapkan teknologi seperti pemecah ombak untuk mengendalikan arus," jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa pasir yang mengalami abrasi tidak hilang jauh, melainkan masih berada di sekitar palung laut, sehingga memungkinkan untuk direstorasi kembali ke garis pantai.

Ke depan, pemerintah menargetkan pembentukan sempadan pantai hingga 110 meter dengan pasir putih yang lebih tertata.

Wisata Kuta Sepi, Faktor Global Ikut Berpengaruh

Sejumlah wisatawan menikmati suasana saat berkunjung di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (25/9/2023). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto

Menanggapi keluhan pedagang soal sepinya wisatawan di Kuta, Giri Prasta menilai kondisi tersebut tidak lepas dari berbagai faktor, termasuk situasi global.

"Kita tidak berharap ada konflik dunia, tapi faktanya itu berdampak. Penerbangan berkurang, biaya avtur naik, tiket pesawat juga ikut mahal," tutur Giri Prasta.

Ia mencontohkan lonjakan harga tiket pesawat, termasuk kelas Bisnis, yang membuat mobilitas wisatawan menjadi terbatas.

Meski demikian, tingkat okupansi hotel di Kuta masih berada di angka sekitar 70 persen, sementara kawasan Sanur bahkan mencapai 80 persen.

Pergeseran ke Canggu Dinilai Sementara

Ilustrasi pemandangan Canggu di Bali. Foto: umikem/Shutterstock

Perkembangan kawasan seperti Canggu juga disebut menjadi salah satu faktor perubahan pola kunjungan wisatawan. Namun, Giri Prasta menilai hal ini sebagai dinamika sementara.

"Kalau sekarang terasa berkurang, itu bagian dari proses penataan. Nanti kalau sudah selesai dan lebih bagus, wisatawan pasti kembali," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya arah pariwisata Bali ke depan yang lebih berkualitas, bukan sekadar kuantitas.

Sementara itu, selain penataan pantai, pemerintah juga menyiapkan sejumlah infrastruktur pendukung untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan wisata.

Salah satunya adalah rencana tol laut yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai langsung ke kawasan Canggu dan Berawa, tanpa melalui jalur darat.

"Kita siapkan solusi untuk kemacetan, termasuk tol laut dan underpass di Simpang Jimbaran yang ditargetkan mulai 2026," jelas Giri Prasta.

Tak hanya itu, penataan kawasan Kuta juga akan dilengkapi jogging track, hingga rencana transportasi ringan di sepanjang pantai.

Meski ada persepsi penurunan kunjungan, Giri Prasta menegaskan bahwa Kuta tetap memiliki daya tarik kuat, terutama bagi wisatawan mancanegara.

"Saya kira bukan berkurang, tapi ini alternatif saja. Nanti akan kembali lagi, apalagi wisatawan Australia itu sudah menganggap Bali sebagai rumah kedua," katanya.

Ia optimistis, memasuki musim liburan pertengahan tahun seperti Juni dan Juli, kawasan Kuta akan kembali ramai dikunjungi wisatawan.