Pengamat Tekankan Pentingnya Teknologi CCUS pada Proyek DME Batu Bara

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pengembangan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) dinilai memerlukan penerapan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) untuk menjaga keselarasan dengan target penurunan emisi nasional pada Kamis (7/6/2026). Langkah ini penting guna memastikan proyek hilirisasi tidak menjadi sumber emisi baru.

Dilansir dari Money, emisi dari DME berbasis batu bara memiliki potensi lebih tinggi dibandingkan liquified petroleum gas (LPG) jika tidak dibarengi dengan teknologi penangkapan karbon. Pengamat energi Universitas Indonesia (UI) Iwa Garniwa memberikan peringatan terkait risiko lingkungan tersebut.

"Tanpa CCUS, emisi siklus hidup DME batu bara 20 persen lebih tinggi dari LPG. Ini bertentangan dengan komitmen Nationally Determined Contribution (NDC)," ujar Iwa Garniwa, Pengamat energi Universitas Indonesia (UI).

Pemerintah sendiri saat ini mendorong penggunaan teknologi clean coal yang diklaim sanggup mereduksi emisi hingga 40 persen. Namun, Iwa menganggap teknologi tersebut masih belum memadai untuk mencapai target net zero emission (NZE) tanpa dukungan CCUS.

"Penerapan CCUS akan menaikkan capital expenditure (capex) sekitar 20 persen dan operational expenditure (opex) sekitar 15 persen," katanya Iwa Garniwa, Pengamat energi Universitas Indonesia (UI).

Persoalan emisi ini juga mendapat sorotan dari pengamat energi migas Hadi Ismoyo yang menekankan pentingnya metode perhitungan menyeluruh. Menurutnya, proses produksi gas dari batu bara merupakan tahapan yang melepaskan emisi dalam jumlah signifikan.

"Secara pembakaran akhir, emisi DME terlihat setara dengan LPG dan BBM. Namun proses coal to syngas melepaskan emisi dalam jumlah besar, sehingga total emisinya tetap tinggi," jelas Hadi Ismoyo, Pengamat energi migas.

Pemerintah telah meresmikan fasilitas produksi DME di Tanjung Enim dengan kapasitas 1,4 juta ton per tahun untuk mengoptimalkan batu bara kalori rendah. Hasil produksi tersebut nantinya akan didistribusikan oleh Pertamina melalui unit usaha Pertamina Patra Niaga.