Pentagon Respons Isu Penggunaan Lumba&Lumba Militer oleh Iran

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth merespons pertanyaan wartawan mengenai laporan penggunaan lumba-lumba bunuh diri oleh militer Iran dalam konferensi pers Pentagon terkait perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada Selasa (05/05), seperti dilansir dari Detikcom.

Pertanyaan tersebut diajukan oleh seorang reporter dari The Daily Wire yang meminta tanggapan resmi dari pihak Pentagon mengenai isu dugaan pemanfaatan mamalia laut tersebut dalam konflik bersenjata.

"Apakah Iran menggunakan lumba-lumba bunuh diri?" tanya seorang reporter dari The Daily Wire.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Hegseth menyatakan tidak bisa memberikan konfirmasi mengenai kepemilikan lumba-lumba militer oleh pihak Amerika Serikat sendiri, namun ia memastikan pihak Iran tidak mempunyai teknologi tersebut.

"Saya tidak dapat mengonfirmasi maupun menyangkal lumba-lumba bunuh diri milik kami sendiri, tetapi saya dapat mengonfirmasi bahwa mereka tidak memiliki hal seperti itu," kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine juga mengonfirmasi bahwa dirinya belum pernah mendengar laporan mengenai penggunaan hewan tersebut oleh Iran dalam peperangan.

"Ini terdengar seperti cerita tentang hiu yang dilengkapi sinar laser, bukan?" tanya Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat.

Pernyataan dari para petinggi militer Amerika Serikat tersebut merujuk pada artikel yang diterbitkan oleh media The Wall Street Journal lima hari sebelumnya yang mengulas strategi Iran di Selat Hormuz.

"Iran Is Looking for a Way to Counter a Blockade It Cannot Break." tulis The Wall Street Journal.

Media tersebut mengabarkan bahwa blokade angkatan laut Amerika Serikat berhasil menyingkap kelemahan strategi Iran, sehingga Teheran mencari cara baru untuk mempertahankan kendali mereka di wilayah Selat Hormuz.

"Pejabat Iran telah menyatakan bahwa Teheran mungkin menggunakan senjata yang belum pernah digunakannya untuk menyerang kapal perang Amerika Serikat, mulai dari kapal selam hingga lumba-lumba yang membawa ranjau. Korps Garda Revolusi Islam telah mengancam akan meningkatkan ketegangan dengan memutus kabel serat optik di Selat Hormuz, sebuah tindakan yang akan mengganggu lalu lintas internet global." tulis The Wall Street Journal.

Sejarah mencatat bahwa praktik pelatihan mamalia laut untuk misi militer telah berlangsung selama puluhan tahun, di mana BBC pernah melaporkan pembelian lumba-lumba dari Rusia oleh Iran pada 8 Maret 2000 lalu.

Hewan-hewan tersebut awalnya dilatih oleh militer Angkatan Laut Soviet untuk menyerang penyelam dan kapal musuh sebelum akhirnya dijual akibat ketiadaan dana perawatan setelah Uni Soviet runtuh.

Pelatih utama satwa tersebut, Boris Zhurid, menjelaskan bahwa dirinya terpaksa menjual seluruh hewan air itu ke Iran demi menyelamatkan mereka dari kelaparan di pangkalan Sevastopol, Semenanjung Krimea.

"Jika saya orang yang kejam, saya bisa saja tetap tinggal di Sevastopol. Namun saya tidak tahan melihat hewan-hewan saya kelaparan. Obat-obatan kami, yang harganya ribuan dolar, telah habis, dan kami tidak lagi memiliki ikan atau suplemen gizi." kata Boris Zhurid, Pelatih Utama.

Zhurid memindahkan total 27 hewan termasuk walrus, singa laut, anjing laut, paus beluga, dan lumba-lumba ke Teluk Persia menggunakan pesawat kargo setelah sebelumnya melatih mereka di pangkalan Angkatan Laut Rusia.

"Pada kenyataannya, Iran telah membeli senjata rahasia kami yang dahulu dari Ukraina dengan harga murah," kata Boris Zhurid, Pelatih Utama.

Zhurid menambahkan bahwa ia tidak mengetahui secara pasti misi militer apa yang akan dihadapi oleh hewan-hewan tersebut di Iran setelah proses transaksi selesai.

"Saya siap pergi kepada Tuhan atau bahkan kepada Iblis, asalkan hewanhewan saya diperlakukan dengan baik di sana." kata Boris Zhurid, Pelatih Utama.

Selain Rusia, Amerika Serikat juga mengoperasikan program mamalia laut militer di San Diego, California, dan sempat menerjunkan lumba-lumba terlatih untuk membersihkan ranjau di Teluk Persia pascainvasi Irak tahun 2003.

Mantan Presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani memberikan catatan dalam memoarnya berjudul Reforms in Crisis mengenai kunjungan ke fasilitas kolam hewan laut di Pulau Kish pada 2 April 2000.

"Kami mengunjungi Park Hotel milik Hossein Sabet di bagian tenggara pulau [Kish]. Pengembangan ruang hijau di sana berjalan dengan baik. Kolamkolam hewan laut juga hampir selesai; beberapa kolam telah dioperasikan, dan sejumlah walrus, singa laut, anjing laut, serta lumbalumba telah diimpor dari Ukraina." tulis Akbar Hashemi Rafsanjani, Mantan Presiden Iran.

Rafsanjani membantah tuduhan media Barat yang menyebut hewan-hewan tersebut dibeli untuk keperluan militer seperti memasang ranjau, dan menegaskan bahwa fasilitas tersebut dibangun murni sebagai tempat wisata.

"Hal ini kemungkinan akan menjadi salah satu daya tarik paling populer di Kish," kata Akbar Hashemi Rafsanjani, Mantan Presiden Iran.