Jakarta (ANTARA) -
Perempuan korban kecelakaan kereta api juga menanggung beban peran ganda yang memengaruhi proses pemulihan, di tengah dampak fisik dan psikologis yang dialami.
Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog mengatakan perempuan yang berperan sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga berisiko mengalami beban mental lebih berat setelah mengalami peristiwa traumatis.
“Ketika hal ini terjadi pada perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, maka seluruh anggota keluarga perlu ikut membantu. Tidak bisa dibiarkan dia menghadapi sendiri dalam kondisi yang tidak nyaman,” kata Psikolog yang akrab disapa Bunda Romy itu kepada ANTARA, Selasa.
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi dan tanggung jawab keluarga sering kali membuat korban merasa harus segera pulih dan kembali beraktivitas, meski kondisi psikologis belum sepenuhnya stabil.
Kondisi tersebut dapat memicu konflik batin, terutama ketika korban dihadapkan pada pilihan antara memulihkan diri atau tetap memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam jangka panjang, tekanan ini berpotensi memperlambat proses pemulihan trauma.
Baca juga: Psikolog: Pemulihan trauma kecelakaan perlu dilakukan bertahap
Romy menekankan pentingnya peran keluarga dalam menciptakan ruang pemulihan yang aman. Dukungan tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga konkret dalam bentuk pembagian tanggung jawab sehari-hari.
“Suami atau anggota keluarga lain perlu mengambil alih sebagian tugas agar perempuan yang menjadi korban bisa fokus pada pemulihan. Itu penting untuk membantu mereka bertahan dan pulih,” ujarnya.
Selain keluarga, lingkungan kerja juga dinilai memiliki peran penting. Fleksibilitas dan pemahaman dari tempat kerja dapat membantu korban menjalani proses pemulihan tanpa tekanan tambahan.
Kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi Timur sebelumnya dilaporkan melibatkan sejumlah korban perempuan. Peristiwa ini menyoroti kerentanan kelompok tertentu dalam menghadapi dampak berlapis, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial.
Romy menambahkan bahwa pemulihan trauma tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial yang melingkupi korban. Oleh karena itu, pendekatan yang melibatkan dukungan keluarga dan lingkungan menjadi kunci agar korban dapat kembali menjalani aktivitas secara bertahap.
Baca juga: Psikolog: Trauma kecelakaan kereta bisa picu kecemasan hingga depresi
Baca juga: Mendukbangga: Trauma healing disiapkan untuk korban tabrakan kereta
Baca juga: Psikolog sebut candaan tak nyaman sebagai indikator pelecehan seksual
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·