Perlawanan Iran: Prospek Tatanan Dunia Baru

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Yang perlu kita analisis lebih jauh, apakah kehancuran mitos Israel dan AS akan melahirkan prospek dunia baru dalam tatanan yang lebih damai, at least, kian sirna praktik hegemoni? 

Ada empat variabel menarik yang layak kita cermati. Pertama, pergeseran sikap negara-negara Arab. Kini, mereka tampak jelas, pasca 15 pangkalan militer AS di kawasan Arab digempur Iran, membuat mereka menyadari hilangnya urgensi aliansi pertahanan bersama negeri Paman Sam itu. 

Para pemimpin negara-negara Arab, terutama Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, Yordania, bahkan Mesir dan negara-negara Arab Afrika Utara menilai posisinya justru terancam jika tetap bersama AS. Karena itu, melepaskan ikatan aliansinya bersama AS justru lebih menyelamatkan kepentingan nasionalnya.

Mereka juga menyadari, Israel yang merasa sebagai perisai bahkan penjamin pertahanan dan keamanan Dunia Arab sama sekali zonk. Kepentingan keselamatan Arab tetap terancam manakala Iran memperingatkan sungguh-sungguh dan siap menggempur negara-negara Arab jika berpihak dan memfasilitasi angkatan pertahanan Israel dan AS.

Maka, sebuah hikmah besar dari perlawanan Iran terhadap Israel dan sekutunya (AS) adalah lahirnya kesadaran baru untuk membangun pakta pertahanan “mandiri” Dunia Arab tanpa ikatan emosional dan transaksional bersama AS dan atau Israel.

Efek politik dominonya adalah aliansi pertahanan negara-negara Arab akan mendorong kerjasama mereka yang mengarah pada kondisi kedamaian Arabia. Kisah lama seperti perang antar-negara Arab (Irak versus Kuwait-Arab Saudi pada 1990-1991) tak akan terjadi lagi. Begitu juga, sangat kecil kemungkinannya terjadi lagi perang Irak-Iran, seperti yang pernah terjadi pada 1980-1988. Saddam Hussein kala itu “termakan” propaganda Zionis dan AS.

Dapat disimpulkan secara simplistis, perlawanan agresif Iran terhadap AS dan Israel berpotensi akan mendorong aliansi strategis Dunia Arab. Mereka tak akan bergantung lagi pada kerjasama pertahanan negara-negara lain. Potensi ini juga sekaligus akan mengubur mitos bahwa negara-negara Arab tak akan pernah bisa bersatu.

Sisi lain, buah manis dari pakta pertahanan Dunia Arab juga akan mendorong aktualisasi kerja sama strategis antar negara Arab di sektor ekonomi dan investasi. Sebuah hasil yang cukup memungkinkan lebih jauh adalah kiblat perhatian penyimpanan Petro Dollar-nya di luar AS.

Fenomena capital flight milik negara-negara Petro Dollar ini--di satu sisi akan menjadi malapetaka bagi ekonomi AS. Sisi lain, akan menjadi lumbung ekonomi baru: sebagai wadah “transit” Petro Dollar itu, dalam jangka pendek atau pun menengah dan panjang. Bisa ke negara-negara Eropa atau Rusia dan China sebagai sekutu Iran. 

Dan satu hal yang layak dicatat adalah, di antara negara-negara Islam seperti Malaysia, Moldavia, Pakistan berpotensi mendapatkan limpahan Petro Dollar melalui kerja sama ekonomi dan investasi, minimal dana hibah, yang tergolong fantastik nilainya. 

Kedua, perlawanan agresif Iran terhadap Israel dan AS juga membuahkan kesadaran baru bagi negeri-negara Eropa. Mereka melihat data faktual, AS bukan lagi negara adidaya. Penilaian yang sama juga terhadap Israel. Teknologi persenjataan kedua negara ini tak dapat diandalkan lagi sebagai “bemper” kawasan Eropa.

Pamor kedua negara itu jatuh di mata Eropa. Karena itu muncul kesadaran di masyarakat Uni Eropa bahwa membangun aliansi baru antarnegara Eropa jauh lebih menyelamatkan kawasannya. Kesadaran ini kian menguat manakala AS tak berdaya ketika Iran mengancam para pemimpin Eropa. Ketidakberdayaan AS mendorong sikap politik “perceraian” dengan AS jauh lebih menyelamatkan dan mendamaikan.

Yang menarik untuk dicermati lebih jauh, kesadaran Eropa bukan sekadar tarik diri dari seputar pertahanan dan keamanan, tapi menilai krusial untuk menarik kerjasama ekonomi dan investasinya di Bumi Paman Sam. Prancis sudah memprakarsai. Ia menarik 129 ton emas yang disimpan di brankas New York Federal, bernilai 15,1 miliar Dolar AS atau 12,8 miliar Poundsterling. Negara-negara Eropa juga menyadari urgensi memutus kerjasama teknologi informasi produk AS. 

Catatan menunjukkan, sekitar 70 persen pasar cloud computing di Eropa dikuasai tiga raksasa AS (Amazon AWS, Microsoft Azure dan Google Cloud). Sebesar 80 persen belanja cloud profesional Uni Eropa atau sekitar 265 miliar Poundsterling/tahun dari AS. Sebesar 74 persen perusahaan publik di Eropa juga dari Paman Sam. Dan sekitar 80 persen produk digital, layanan infrastruktur dan IP yang dipakai masyarakat Uni Eropa juga dari AS.

Maka, kebijakan dismissed (anti) AS itu akan menciptakan gelombang kekuatan ekonomi baru bagi Eropa. Inilah kesadaran penting dan hikmah baru bagi kepentingan ekonomi Eropa akibat perlawanan militeristik Iran. Kehancuran AS membangkitkan spiritualitas baru Eropa dalam misi pembangkitan ekonomi melalui karya-karya teknologi informasi. 

Reaksi dunia Arab dan Eropa sebagai variabel ketiga menjadi malapetaka bagi AS sepanjang dipimpin seorang pemimpin yang keras kepala (koppig) Donald Trump. Jika Trump dipertahankan sampai habis masa jabatannya dan memperpanjang libido perangnya, AS dibayang-bayangi krisis ekonomi yang cukup serius. Sangatlah mungkin AS sampai ke titik nadir. 

Sebuah pertanyaan, mungkinkah rakyat AS membiarkan diri dalam krisis yang mendalam itu? Kecil kemungkinannya. Itulah sebabnya, rakyat AS sudah demikian gencar untuk meng-impeach Trump. Tinggal menunggu hari. Sebagian anggota Kongres dari Partai Republik sudah menyetujui impeachment Trump. Unjuk rasa anti Trump juga demikian meluas dan terus berlangsung.

Sebuah pertanyaan mendasar, apakah pengganti Trump yang sehaluan warna politiknya? Pasti tidak. Di sinilah sebagai variabel keempat--AS membutuhkan figur yang akseptif di dalam negerinya (domestik), juga dunia internasional. Dalam hal ini kehadiran Walikota New York, Zohran Mamdani menjadi the new hope. 

Keberadaannya yang muslim sebagai kandidat Presiden AS justru kini menjadi “penawar” penting dalam menghadapi Iran. Spirit kesamaan agamanya akan menjadi jalan lempang untuk membangun dialog bermisi perdamaian. 

Yang menarik untuk kita refleksikan lebih jauh, positioning Zohran sebagai pemimpin AS berpotensi akan menciptakan dunia baru yang lebih adil, bijak dan beradab. Ia berangkat dari warna dan model kebijakan kepemimpinannya di New York--punya karakter kekuasaan yang mampu merangkul seluruh etnis dan siapapun yang berbeda, termasuk keyakinan. Islam yang dibawanya sejuk, sarat dengan Islam yang rahmatan lil`alamin. Karakter ini merupakan modal diplomasi untuk mendudukkan seluruh pimpinan dunia dalam kesetaraan yang saling menghormati.

Sementara, dalam wilayah internal domestik, integritasnya akan membawa AS selamat dari potensi kehancuran. Karena responsi positif dunia. Jika Zohran berhasil duduk di Gedung Putih, Israel akan kehilangan daya. Karena, Zohran pasti akan menyetop kebijakan pro Israel sepanjang negeri Zionis itu tetap melanjutkan kegaduhan di muka bumi ini. Kebijakan politik negeri AS di bawah Zohran, ditambah lagi dukungan Eropa yang kian menjauh dari Zionis, akan semakin menguat menuju tatanan politik dunia baru yang berpihak pada kedamaian.

Sebuah tantangan, langkah politik Zohran yang berpotensi besar akan menyelamatkan bangsa dan negara AS akan dihadang kekuatan lobi Yahudi. Tapi, sejalan dengan ancaman serius ketersungkuran AS, propaganda lobi Yahudi akan dihadapi dengan kesadaran kolektif-masif-ekstensif rakyat AS. 

Akhirnya, konflik bersenjata Iran versus Israel-AS telah mengakibatkan kedua negara ini masuk dalam lembah krisis multidimensi. Di sana kita menyaksikan potensi dunia baru. Sebuah harapan, sketsa dunia baru yang berkeadilan, kedamaian dan berkeadilan ini bukanlah fatamorgana teoritik. 

Jika menukil catatan keagamaan, inilah masa-masa dunia yang penuh damai selama sekitar 40 tahun ke depan sebelum kiamat kubra, sebuah tanda usai dajjal dan ya`juj-ma`juj berhasil ditumpas Nabi Isa alaihissalam (hadits riwayat Abu Hurairah dan An-Nawwas bin Sam`an, tercatat dalam Shahih Bukhari-Muslim No. 2937a, versi USC-MSA: Buku 41, hadits 7023). rmol news logo article 

Agus Wahid
Analis politik dan kebijakan publik