Persediaan bensin di California merosot ke titik terendah dalam sejarah, di tengah lonjakan harga bahan bakar yang dipicu konflik di Iran. Mengutip Reuters, sejumlah analis menilai dampak penutupan Selat Hormuz masih akan terasa dalam waktu dekat.
Mengacu data American Automobile Association (AAA), harga bensin di California per Kamis mencapai rata-rata USD 5,86 per galon. Angka ini tertinggi di Amerika Serikat, jauh melampaui rata-rata nasional sebesar USD 4,09 per galon.
Ketergantungan California pada pasokan bahan bakar olahan dari Asia membuat tekanan ini diperkirakan kian berat. Para analis menyebut wilayah ini berpotensi menjadi yang pertama merasakan efek penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia.
"Asosiasi Komisi Energi terus berkomunikasi secara intens dengan seluruh kilang di dalam negara bagian untuk memastikan pasokan bahan bakar transportasi tetap memadai selama periode yang bergejolak ini, akibat penyusutan pasokan karena penutupan efektif Selat Hormuz," ujar Juru Bicara Lembaga tersebut, Niki Woodard.
Data California Energy Commission (CEC) mencatat rata-rata stok bensin dalam empat pekan hingga 10 April hanya mencapai 9,44 juta barel. Angka ini menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 2005. Persediaan tersebut mencakup bensin campuran khas California, komponen pencampur, serta pasokan dari luar standar negara bagian.
Secara struktural, California memang rentan terhadap gejolak harga karena tidak terhubung dengan jaringan pipa bahan bakar nasional. Kondisi ini memaksa negara bagian tersebut bergantung pada impor dari Asia, yang sebagian besar mengolah minyak mentah dari Timur Tengah menjadi produk bahan bakar untuk kawasan Pantai Barat AS.
Lonjakan harga hingga USD 5,86 per galon mencerminkan kenaikan sekitar 26% sejak konflik Iran dimulai. Selain faktor pasokan global, harga bensin di California juga lebih tinggi karena beban pajak serta biaya produksi campuran bahan bakar khusus yang dirancang untuk menekan polusi udara, terutama di wilayah seperti Los Angeles.
Dampak Belum Sepenuhnya Terasa
Meski stok menipis, dampak penuh dari berkurangnya impor minyak mentah dan bensin belum sepenuhnya tercermin dalam sistem distribusi di California.
Dalam analisis terbarunya, Profesor University of Southern California, Michael Mische, menyebut distribusi bahan bakar dari Asia ke Pantai Barat umumnya membutuhkan waktu beberapa minggu.
Dalam satu hingga dua pekan ke depan, impor bensin diperkirakan akan turun signifikan. "Ini akan menjadi titik ketika guncangan impor mulai terlihat sepenuhnya pada pasokan di terminal dan, pada akhirnya, di pompa bensin,” kata Mische.
Analis Rystad Energy, Susan Bell, juga memperkirakan penurunan stok bensin di California masih akan berlanjut dalam beberapa minggu ke depan.
Perubahan struktur industri energi turut memperparah kondisi ini. California yang sebelumnya dikenal sebagai produsen minyak besar kini semakin bergantung pada impor, setelah dua kilang yang menyumbang sekitar 20 persen kapasitas pengolahan ditutup dalam beberapa tahun terakhir.
Data CEC menunjukkan stok minyak mentah California berada di level 10,09 juta barel, turun lebih dari 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, kilang di California mulai mengalihkan sumber pasokan minyak mentah dan bensin dari wilayah lain untuk menutupi kekurangan pasokan dari Timur Tengah. "Kami tidak memperkirakan adanya tantangan pasokan dalam jangka pendek,” katanya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·