Pertamina Menjamur, Antrean Mengular

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Saya membayangkan satu hal sederhana. Antrean.

Bukan antrean sembako zaman dulu. Bukan pula antrean konser. Ini antrean BBM. Kendaraan mengular di depan SPBU Kota Palangka Raya. Dari pagi. Sampai malam. Ada yang mematikan mesin. Ada yang duduk di jok sambil memainkan ponsel. Ada pula yang mulai bertanya-tanya. “Jangan-jangan bensin mau habis?”

Begitulah suasana beberapa hari terakhir.

Di kota yang biasanya longgar itu, antrean tiba-tiba menjadi pemandangan rutin. Motor berjejer. Mobil memanjang. Kadang sampai menutup badan jalan. Orang-orang mulai saling bertukar kabar. SPBU mana yang masih kosong. Mana yang cepat habis. Mana yang katanya baru didatangi tangki.

Padahal, menurut Pertamina, stok aman.

Kalimat itu terdengar menenangkan. Tetapi di lapangan, mata masyarakat melihat hal berbeda. Antrean justru semakin panjang. Dalam urusan BBM, masyarakat lebih percaya panjang antrean dibanding pernyataan resmi.

Pihak Pertamina Patra Niaga memastikan distribusi Pertalite dan Pertamax tetap berjalan. Mereka menyebut tidak ada kelangkaan. Yang terjadi hanyalah lonjakan konsumsi secara bersamaan di banyak SPBU.

Electronic money exchangers listing

Logikanya memang masuk akal. Ketika masyarakat mulai khawatir, mereka datang bersamaan. Tangki kendaraan yang sebenarnya masih setengah langsung diisi penuh. Ada rasa takut tidak kebagian. Di situlah antrean mulai membesar sendiri.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun mengatakan distribusi dari Fuel Terminal Pulang Pisau terus diatur berkala agar stok merata di seluruh wilayah Palangka Raya dan sekitarnya.

Masalahnya, distribusi BBM bukan urusan menuang air ke gelas. Ada proses angkut. Ada bongkar muat. Ada waktu tempuh. Ketika satu SPBU mendadak diserbu kendaraan, stok bisa terkuras lebih cepat dari perkiraan. Saat tambahan pasokan diminta, truk tangki juga perlu waktu bergerak.

Dan antrean tidak suka menunggu.

Karena itu, SPBU yang mengalami lonjakan konsumsi disebut akan segera mendapat suplai tambahan sesuai kebutuhan masing-masing. Pertamina juga mengaku terus memantau kondisi lapangan sambil berkoordinasi dengan pemerintah kota, Dinas Perhubungan, hingga kepolisian untuk mengatur arus antrean agar tidak meluber ke jalan raya.

Tetapi ada pelajaran menarik dari peristiwa seperti ini.

Kelangkaan kadang bukan dimulai dari habisnya barang. Melainkan dari rasa cemas masyarakat. Rasa khawatir itulah yang sering lebih cepat menyebar dibanding distribusi BBM itu sendiri.

Maka imbauan Pertamina sebenarnya sederhana. Jangan panic buying. Isi sesuai kebutuhan. Jangan karena melihat antrean panjang lalu ikut menimbun dalam tangki kendaraan.

Sebab kalau semua orang merasa harus mengisi penuh di saat bersamaan, antrean akan tetap panjang sekalipun stok sebenarnya masih tersedia.

Dan kota akan terus dipenuhi pemandangan yang sama. SPBU menjamur, antrean mengular.

*) Eko Supriyadi, Penulis adalah Pewarta Prokalteng.jawapos.com

Saya membayangkan satu hal sederhana. Antrean.

Bukan antrean sembako zaman dulu. Bukan pula antrean konser. Ini antrean BBM. Kendaraan mengular di depan SPBU Kota Palangka Raya. Dari pagi. Sampai malam. Ada yang mematikan mesin. Ada yang duduk di jok sambil memainkan ponsel. Ada pula yang mulai bertanya-tanya. “Jangan-jangan bensin mau habis?”

Begitulah suasana beberapa hari terakhir.

Electronic money exchangers listing

Di kota yang biasanya longgar itu, antrean tiba-tiba menjadi pemandangan rutin. Motor berjejer. Mobil memanjang. Kadang sampai menutup badan jalan. Orang-orang mulai saling bertukar kabar. SPBU mana yang masih kosong. Mana yang cepat habis. Mana yang katanya baru didatangi tangki.

Padahal, menurut Pertamina, stok aman.

Kalimat itu terdengar menenangkan. Tetapi di lapangan, mata masyarakat melihat hal berbeda. Antrean justru semakin panjang. Dalam urusan BBM, masyarakat lebih percaya panjang antrean dibanding pernyataan resmi.

Pihak Pertamina Patra Niaga memastikan distribusi Pertalite dan Pertamax tetap berjalan. Mereka menyebut tidak ada kelangkaan. Yang terjadi hanyalah lonjakan konsumsi secara bersamaan di banyak SPBU.

Logikanya memang masuk akal. Ketika masyarakat mulai khawatir, mereka datang bersamaan. Tangki kendaraan yang sebenarnya masih setengah langsung diisi penuh. Ada rasa takut tidak kebagian. Di situlah antrean mulai membesar sendiri.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun mengatakan distribusi dari Fuel Terminal Pulang Pisau terus diatur berkala agar stok merata di seluruh wilayah Palangka Raya dan sekitarnya.

Masalahnya, distribusi BBM bukan urusan menuang air ke gelas. Ada proses angkut. Ada bongkar muat. Ada waktu tempuh. Ketika satu SPBU mendadak diserbu kendaraan, stok bisa terkuras lebih cepat dari perkiraan. Saat tambahan pasokan diminta, truk tangki juga perlu waktu bergerak.

Dan antrean tidak suka menunggu.

Karena itu, SPBU yang mengalami lonjakan konsumsi disebut akan segera mendapat suplai tambahan sesuai kebutuhan masing-masing. Pertamina juga mengaku terus memantau kondisi lapangan sambil berkoordinasi dengan pemerintah kota, Dinas Perhubungan, hingga kepolisian untuk mengatur arus antrean agar tidak meluber ke jalan raya.

Tetapi ada pelajaran menarik dari peristiwa seperti ini.

Kelangkaan kadang bukan dimulai dari habisnya barang. Melainkan dari rasa cemas masyarakat. Rasa khawatir itulah yang sering lebih cepat menyebar dibanding distribusi BBM itu sendiri.

Maka imbauan Pertamina sebenarnya sederhana. Jangan panic buying. Isi sesuai kebutuhan. Jangan karena melihat antrean panjang lalu ikut menimbun dalam tangki kendaraan.

Sebab kalau semua orang merasa harus mengisi penuh di saat bersamaan, antrean akan tetap panjang sekalipun stok sebenarnya masih tersedia.

Dan kota akan terus dipenuhi pemandangan yang sama. SPBU menjamur, antrean mengular.

*) Eko Supriyadi, Penulis adalah Pewarta Prokalteng.jawapos.com