Pertamina Patra Niaga Pulihkan Ekosistem Sungai Musi, Libatkan Masyarakat Sumatera Selatan

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Pertamina Patra Niaga mengambil langkah konkret dalam memulihkan ekosistem Sungai Musi, Sumatera Selatan, sekaligus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang hidupnya bergantung pada sungai bersejarah tersebut. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui program Belida Musi Lestari yang diinisiasi sejak tahun 2022, sebagai respons terhadap ancaman serius pada keberlangsungan ekosistem perairan ikonik provinsi tersebut.

Program ini muncul sebagai respons atas praktik penangkapan ikan Belida yang tidak terkendali, yang memperparah degradasi lingkungan di sepanjang sungai. Ikan Belida yang merupakan bagian dari jati diri masyarakat Sumatera Selatan selama ratusan tahun, terancam punah lantaran eksploitasi yang terus meningkat tanpa adanya upaya pelestarian yang memadai.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan signifikansi Sungai Musi bagi masyarakat Sumatera Selatan, tidak hanya dari sisi ekologi tetapi juga dari dimensi budaya dan ekonomi yang telah mengakar selama berabad-abad.

"Sungai Musi bukan hanya ikon Provinsi Sumatera Selatan, tetapi juga menjadi urat nadi kehidupan, jejak sejarah, dan identitas budaya masyarakat di sana, termasuk Ikan Belida yang sudah ratusan tahun menjadi bagian jati diri warga Sumsel, sehingga dijadikan bahan baku utama kuliner pempek yang otentik," ujar Roberth.

Kerusakan ekosistem telah berdampak langsung pada kondisi ekonomi masyarakat sekitar sungai, terutama nelayan dan pembudidaya ikan. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) berada di angka memprihatinkan, yaitu 95,53. Kondisi ini juga terlihat di Kampung Perikanan Sungai Gerong yang mengalami "gulung waring", kegagalan massal usaha perikanan akibat perubahan lingkungan yang cepat.

Program Belida Musi Lestari dijalankan melalui pendekatan holistik yang dinamakan model ekosistem perikanan berdikari, mencakup lima pilar utama. Pilar pertama adalah berdikari benih untuk memastikan ketersediaan benih ikan secara mandiri. Pilar kedua, berdikari proses, menekankan tata kelola budidaya yang efisien dan terstandarisasi. Pilar ketiga yakni berdikari pakan, dengan inovasi pengolahan pakan mandiri untuk menekan biaya produksi secara berkelanjutan. Pilar keempat, berdikari produk, mendorong hilirisasi hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah. Dan kelima, berdikari pengetahuan, berfokus pada transfer ilmu pengetahuan.

"Program ini tidak memberikan bantuan instan yang bersifat sementara, tetapi membangun sistem yang mandiri dari hulu hingga ke hilir. Hasilnya pun nyata, kini telah terbentuk 30 sentra perikanan terintegrasi," jelas Roberth.

Dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan sangat signifikan. Program ini berhasil melibatkan 307 jiwa dari 8 kategori kelompok rentan dan mencatatkan peningkatan penjualan ikan hingga 809 persen atau sekitar Rp750 juta. Selain itu, berhasil mengolah 36 ton sampah makanan menjadi pakan ikan atau pellet food waste. Dari sisi pelestarian, program ini mengkonservasi 4 jenis ikan Belida khas Sumatera Selatan. Program ini juga melahirkan Pusat Pembelajaran Masyarakat yang dilengkapi dengan 2 model pembelajaran dan 18 kelas edukasi perikanan.

Keberhasilan ini tercermin dari skor Indeks Kepuasan Masyarakat sebesar 98,26 persen dan survei Exit Readiness and Sustainability Score yang menunjukkan angka 81,77. Efektivitas investasi sosial program ini terukur melalui nilai SROI sebesar 1,76.

Program Belida Musi Lestari merupakan bukti komitmen Pertamina Patra Niaga terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan PBB. Program ini diharapkan dapat mendorong pemulihan ekosistem Sungai Musi serta membangun ketahanan ekonomi masyarakat lokal.